Beda Minuman Isotonik dan Minuman Berenergi

Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

Keseimbangan cairan tubuh perlu kita jaga, karenanya air menempati porsi yang besar dalam kebutuhan gizi harian. Tubuh memiliki mekanisme untuk menjaga keseimbangan cairan, salah satunya dengan timbulnya rangsangan haus.

Secara umum, minuman bisa dibagi menjadi empat kategori, yakni air biasa, minuman hipotonik, minuman isotonik, dan minuman hipertonik.

Menurut penjelasan Dr.Elvina Karyadi, Sp.GK, minuman hipotonik mengandung kadar elektrolit (Na) dan karbohidrat rendah (2-3%). Sementara itu, minuman isotonik merupakan cairan berbasis air yang mengandung glukosa dan fruktosa sekitar 6 persen. Konsentrasi minuman isotonik ini sama dengan tubuh. 

"Sedangkan minuman hipertonik mengandung konsentrasi substansi tinggi. Kandungan karbohidratnya tinggi (10%)," papar Elvina dalam acara bertajuk 'Kenali Manfaat 7 Ion untuk Aktivitas Sehari-hari," yang diadakan oleh Forum Ngobras dan Wings Food di Jakarta (29/3/16).

Minuman hipotonik berfungsi untuk mengganti cairan yang keluar melalui keringat, tanpa menambah karbohidrat. Bisa dikonsumsi saat berolahraga karena cepat diserap di usus. Contoh minuman hipotonik adalah minuman penyegar yang mengandung NaCL dan dekstrosa. 

Seperti minuman hipotonik, minuman isotonik juga cepat menggantikan keringat dan cepat diserap tubuh. Bedanya, minuman isotonik juga menggantikan elektrolit dan memberikan asupan karbohidrat. Minuman ini cocok untuk kebutuhan aktivitas sehari-hari yang padat atau intensitas tinggi.

Beda minuman isotonik dengan air biasa, minuman isotonik diformulasikan secara khusus dengan kadar ion yang sudah ditentukan.

Adapun minuman hipertonik, baik sebagai minuman berenergi atau peningkat stamina. Cocok bagi mereka yang berolahraga berat atau mengeluarkan banyak energi. 

“Namun, minuman jenis ini tidak dapat digunakan untuk rehidrasi atau saat haus,” tegas Dr. Elvina. 

Ini karena konsentrasi substansinya tinggi (pekat), sehingga pengosongan lambung dan penyerapan air berjalan lambat. Cairan tubuh akan menjadi hipertonik/pekat, dan malah akan memperberat dehidrasi.

Menurut penjelasan dr.Grace Tumbelaka, spesialis kedokteran olahraga, meski ada banyak produk minuman, kita harus melihat jenis yang tepat sesuai aktivitas.

"Setelah olahraga kita bisa meminum air biasa atau cairan isotonik. Kalau hipertonik karena tinggi glukosa, gunanya untuk menggantikan glikogen, jadi fungsinya bukan untuk rehidrasi," kata Grace dalam acara yang sama.

Bila minuman hipertonik seperti minuman energi diminum saat olahraga justru susah diserap. "Energy drink itu isinya banyak, malah kadang enggak terlalu cocok menggantikan energi setelah olahraga," katanya.