Demi Bantu Korban Gempa-Tsunami Palu, Bocah WNI di Australia Rela Jual Mainan

Pantauan udara ratusan rumah terendam lumpur dan tanah di Petobo, Palu Selatan, Sulawesi Tengah, Rabu (3/10). Fenomena likuifaksi tersebut terjadi pasca gempa berkekuatan 7,4. (Fery Pradolo)
Adam baru saja berusia menginjak usia 9 tahun, tapi tidak seperti kebanyakan murid kelas 3 Sekolah Dasar, ia tidak ingin ulang tahunnya dirayakan. Ia malah meminta ibunya untuk menjual mainan dan buku-bukunya, lalu mengatakan agar uang hasil penjualan tersebut disumbangkan ke korban gempa-tsunami di Donggala dan Palu, Sulawesi Tengah.

Adam adalah satu dari sejumlah warga Indonesia di Australia yang berupaya menggalang dana bagi pemulihan Palu dan Donggala pasca gempa dan tsunami yang telah menewaskan lebih dari 1.400 orang.

Diena Said, ibu dari Adam mengatakan puteranya berencana mengelar 'Garage Sale' di rumah mereka sendiri di kawasan Pascoe Vale, Melbourne, hari Minggu (7/10/2018).

"Awalnya malam-malam saya dan anak-anak sedang berbaring di tempat tidur dan melihat kiriman berita soal Palu di WhatsApp," ujar Diena kepada ABC Indonesia, dilansir (5/10/2018).

"Adam yang ikut melihat tiba-tiba mengatakan, 'I'm so sad' (saya sedih sekali)".

Diena mengatakan Adam teringat dengan sisa uangnya dari hadiah lebaran yang berjumlah 20 dolar Australia, atau lebih dari Rp 200 ribu dan ingin memberikannya kepada korban gempa yang ia lihat di Whatsapp.

"Kemudian ide datang dari dirinya sendiri untuk mendapatkan uang lebih banyak lewat menjual mainan dan buku-bukunya."

Di sejumlah negara bagian Australia, komunitas Indonesia juga menggelar konser dan festival yang salah satu agendanya adalah untuk mengumpulkan dana untuk memberi bantuan makanan dan kebutuhan pokok bagi korban terdampak.

Badan PBB memperkirakan 60.000 warga di Sulawesi Tengah kehilangan tempat tinggal dan kini tinggal di pengungsian.