'Aquaman', Rebutan Takhta di Bawah Laut


James Wan adalah aset berharga. Apapun yang disentuhnya sepertinya menjadi harta karun. Saw yang dirilis pada tahun 2004 menjadi sebuah franchise yang menjanjikan.

Film tersebut juga menjadi awal kejayaan genre torture porn yang sempat booming di era 2000-an.

James Wan mencoba keuntungannya dengan membuat dua film horor setelah Saw yaitu Death Silence dan Death Sentence yang ternyata gagal.

Tapi awan mendung tidak berlangsung lama. Tahun 2010, dengan Insidious nama James Wan kembali diperbincangkan.


Dengan bujet minimalis, James Wan berhasil membuat sebuah horor yang sukses. Film ini kemudian akhirnya melahirkan satu sekuel dan dua prekuel.

James Wan benar-benar dianggap sebagai maestro horor ketika dia merilis The Conjuring. Bersama sekuelnya, James Wan berhasil membuat film horor yang mutakhir.

Semua orang berbondong-bondong untuk menyaksikan sekuelnya. Bahkan 'mainan-mainan' dalam dua film tersebut, seperti Annabelle dan The Nun juga merebut hati para penggemar horor.

Banyak orang yang skeptis dengan skill James Wan sebagai filmmaker karena dia hanya terbukti berhasil di genre horor. Ia membuktikan bahwa ia lebih dari sekedar tukang menghantu-hantui melalui Furious 7.

Bahkan dengan berita duka yang terjadi selama produksi, James Wan tidak hanya berhasil menyelesaikan film tersebut tapi juga berhasil membuat sebuah homage yang menyentuh untuk Paul Walker.

Furious 7 akhirnya menjadi seri Fast and Furious yang paling sukses saat ini dengan 1,5 miliar dari pendapatannya dari seluruh dunia.

Lalu bagaimana dengan babak baru James Wan berikutnya? Aquaman adalah sebuah tantangan yang menarik.

Setelah Justice League yang begitu hancur lebur, James Wan mendapatkan tanggung jawab yang besar untuk membuat penonton (dan fans DC) kembali melirik superhero DC. Ternyata usahanya berbuah manis meskipun belum maksimal.

Aquaman bercerita tentang petualangan Arthur Curry (Jason Momoa, fantastik), seorang lelaki yang merupakan hasil dari manusia biasa dan Ratu Atlantis. Hidupnya normal. Walaupun sesekali dia menyelamatkan nyawa banyak orang. Tapi setidaknya dia masih punya rutinitas yang wajar.


Sampai akhirnya Mera (Amber Heard) muncul dan memintanya untuk ke Atlantis. Disana dia diminta untuk menjadi raja agar kekacauan masal tidak terjadi.

Dibuka dengan opening paling efektif dalam sejarah DC Extended Universe sejauh ini, Aquaman terasa menyenangkan sekaligus telat pada saat yang bersamaan.

Aquaman terasa menyenangkan karena ini adalah pertama kalinya kita menyaksikan dunia Aquaman yang lengkap. Penampilannya di Justice League yang ala kadarnya jadi termaafkan melalui film ini.

Meskipun CGI yang ada di film ini agak terasa berlebihan, tapi warna-warni yang disajikan James Wan membuat banyak orang terpesona. Bahkan makhluk-makhluk kreasinya membuat dunia Atlantis terasa tiga dimensional.

Sayangnya, setelah opening yang meyakinkan, Aquaman kemudian menjelajah ke area yang familiar. Film ini terasa seperti Thor di bawah laut. Bahkan plot 'perang saudara merebut kekuasaan' yang menjadi plot utama film ini terasa basi.

Mungkin karena kita sudah menyaksikan Black Panther tahun ini yang jauh lebih spektakuler. Sengoyo Patrick Wilson (berperan sebagai Orm, saudara tiri Aquaman) dan Jason Momoa bertarung, semuanya tidak ada apa-apanya dibandingkan Chadwick Boseman dan Michael B. Jordan saling adu kekuatan.

Ini kemudian diperparah dengan musik yang terasa ala kadarnya. Dibuat oleh Rupert Gregson-Williams, score Aquaman terasa acak adul. Tidak ada tone yang jelas.

Musiknya terasa generik dan aneh pada saat yang bersamaan. Gambar yang ada di layar dan musik yang ada di belakangnya tidak mempunyai chemistry. Bahkan pilihan soundtracknya pun terasa begitu aneh. Cover Toto? Kenapa tidak langsung menggunakan lagu aslinya?

Jason Momoa kelihatan begitu bersenang-senang menjadi Arthur Curry/Aquaman. Sayang sekali skrip yang ia dapatkan tidak bisa memenuhi kemampuannya. Kita tidak pernah mendapatkan sisi emosional Arthur Curry.

Hal yang membuatnya terasa manusiawi atau tiga dimensional. Penulisnya jauh lebih sibuk untuk membuat jokes-jokes yang jarang berhasil. Momen paling menggetarkan dari film ini adalah ketika Aquaman mencoba mendapatkan trisula. Rasanya mengesankan meskipun agak familiar.

Dengan klimaks yang hambar, sayang sekali James Wan tidak mempunyai materi yang cukup baik untuk menjadikan Aquaman sewonderful Wonder Woman. Film ini memang jauh lebih bisa dinikmati daripada Justice League tapi dibutuhkan lebih dari sekedar Nicole Kidman, makhluk-makhluk bawah laut, perang antar saudara dan otot megah Jason Momoa untuk menjadikan Aquaman sebagai film superhero terbaik.