Mengenal Iron Dome, Tameng Israel saat Dihujani 700 Roket Gaza


Sistem pertahanan rudal Iron Dome menjadi tameng andalan Israel ketika sekitar 700 roket ditembakkan kelompok militan Jalur Gaza. Selama dua hari saling serang, 24 warga Palestina di Gaza dan empat warga Israel tewas.

Pertumpahan darah pada Sabtu dan Minggu itu menandai kematian pertama di pihak Israel dari tembakan roket sejak perang 2014. Pada hari Senin (6/5/2019), gencatan senjata diupayakan melalui mediator Mesir.

Pecahnya kekerasan tersebut sejatinya dimulai pada hari Jumat ketika seorang sniper Gaza melukai dua tentara Israel dan IDF membalas dengan membunuh tiga warga Gaza, satu ditembak mati tentara dan dua lainnya tewas oleh serangan udara.

Iron Dome adalah sistem pertahanan udara mobile untuk segala cuaca yang dikembangkan oleh Israel untuk mencegat dan menghancurkan roket jarak pendek dan peluru artileri yang ditembakkan dari jarak pendek.

Sistem anti-rudal itu memiliki kemampuan untuk mendeteksi roket musuh sejauh 4 hingga 70 km dan melakukan intersepsi untuk menghancurkan roket tersebut di udara. Pasukan Pertahanan Israel (IDF) belum merinci berapa dari 700 roket militan Gaza yang berhasil dicegat dan berapa yang menghantam daratan Israel.


Iron Dome menyelesaikan serangkaian pengujian terakhir pada Juli 2010 dan diluncurkan serta dinyatakan beroperasi pada 2011. Menurut situs web Missile Threat—produk dari Missile Defense Project di Center for Strategic and International Studies (CSIS)—biaya lengkap sistem anti-rudal itu mencapai sekitar USD100 juta per baterai.

Pendanaan awal dan pengembangan sistem Iron Dome disediakan dan dilakukan oleh Israel. Menurut situs web tersebut, Amerika Serikat menyediakan dana untuk sistem itu mulai tahun 2011.

Menurut pabrikannya, Iron Dome mampu beroperasi siang dan malam termasuk dalam kondisi cuaca buruk. Senjata pertahanan ini dapat merespons berbagai ancaman secara bersamaan. Sistem itu memiliki tiga komponen utama, yakni pendeteksi dan radar pelacak, sistem kontrol senjata dan unit penembakan rudal.

Ada 10 baterai Iron Dome yang melindungi Israel. Menurut kontraktor pertahanan Raytheon, masing-masing baterai sistem itu mencakup tiga hingga empat peluncur stasioner dengan 20 rudal Tamir dan sebuah radar battlefield.

Raytheon yang berbasis di Amerika Serikat adalah salah satu kolaborator dalam proyek pembuatan senjata pertahanan militer Zionis tersebut. Rudal Tamir sendiri dilengkapi sensor elektro-optik dan sirip kemudi dengan hulu ledak yang meledak ketika kontak dengan rudal atau objek yang jadi target.


Menurut Raytheon, masing-masing baterai Iron Dome dapat diandalkan untuk area hingga hampir 60 mil persegi. Namun, sistem ditempatkan secara strategis di sekitar kota untuk mencegat ancaman yang mengarah ke daerah berpenduduk. Penempatan seperti itu diyakini sebagai pendekatan hemat biaya untuk meminimalkan peluncuran rudal pencegat yang tidak perlu mengingat biaya setiap rudal lumayan mahal.

Selama konflik dengan Hamas pada November 2012, para pejabat Israel mengklaim bahwa Iron Dome mencegat 85 persen dari 400 roket yang ditembakkan dari Jalur Gaza yang diproyeksikan mengenai wilayah penduduk sipil.

Militer Israel pada hari Minggu mengatakan pihaknya menyerang 250 sasaran di Gaza, termasuk tempat penyimpanan senjata, terowongan serangan, lokasi peluncuran roket dan fasilitas produksinya. Militer Israel juga mengerahkan tank-tank dan pasukan infantri ke perbatasan Gaza, dan membuat brigade lain siaga.