Sindrom Alice in Wonderland, peneritanya Berasa seperti Raksasa atau orang Kerdil

Pernahkah anda membaca dongeng yang berjudul ‘Alice di Negeri Dongeng’ (Alice in Wonderland)? Dongeng tersebut bercerita tentang petualangan seorang gadis bernama Alice. Pada awalnya Alice hanya sedang mengejar seekor kelinci berpenampilan aneh yang masuk ke dalam lubangnya. 

Saat Alice ikut masuk ke dalam lubang tersebut, ia justru terdampar di dunia lain yang penuh akan makhluk-makhluk aneh. Ia juga merasakan hal-hal aneh yang terjadi pada dirinya. Dalam suatu kesempatan, tubuhnya menyusut hingga begitu kecil. Namun dalam kesempatan lain, ia justru tumbuh begitu besar sampai-sampai rumah yang dimasukinya jebol dari dalam.

Kisah Alice tersebut memang hanyalah kisah rekaan semata. Namun di dunia nyata ini, kasus di mana seseorang kalau merasa dirinya lebih besar atau lebih kecil dari yang seharusnya ternyata memang benar-benar. Kasus tersebut di dunia medis dikenal dengan sebutan ‘Alice in Wonderland Syndrome’ (AWS).


Alice in Wonderland Sindrom

Menurut situs Health Line, AWS adalah kondisi langka yang menyebabkan penderitanya mengalami gangguan sementara ketika merasakan kondisi sekitarnya. Saat berada di dalam ruangan misalnya, penderita AWS bakal merasa kalau ruangan yang ditempatinya seolah-olah membesar atau mengecil. Kemudian saat melihat perabotan, penderita AWS merasa kalau perabotan di sekitarnya menjauh atau mendekat dengan sendirinya.

AWS sendiri terjadi bukan akibat halusinasi atau adanya gangguan pada mata. Tetapi karena otak mengalami perubahan dalam menanggapi informasi yang diterima melalui indra. Selain mempengaruhi penglihatan, AWS juga bisa mempengaruhi indra-indra lain seperti sentuhan dan pendengaran. kadang-kadang penderita AWS juga bakal merasa kalau waktu seolah-olah berjalan lebih cepat atau lebih lambat dari seharusnya.

Anak-anak dan orang yang baru dewasa adalah kalangan yang paling sering terkena sindrom ini. Saat seseorang bertambah tua, maka sindrom ini secara berangsur-angsur bakal menghilang. Namun mereka yang pernah terkena sindrom ini tetap berpeluang kembali mengalami sindrom AWS kendati sudah berusia tua.  

AWS juga dikenal dengan nama sindrom Todd karena sindrom ini pertama kali diidentifikasi pada tahun 1950-an oleh psiakater Inggris yang bernama John Todd. Todd pulalah yang menyebut kalau sindrom ini memiliki kemiripan dengan cerita Alice di Negeri Dongeng. 

Dongeng Alice sendiri merupakan hasil ciptaan dari penulis Lewis Carroll. Yang menarik adalah Carroll sendiri nampaknya terinspirasi untuk menulis dongeng Alice karena terinspirasi dari pengalamannya sendiri. Menurut pengakuan Carroll di buku hariannya sendiri, setiap kali ia terkena sakit kepala migren, ia bakal merasakan keganjilan saat melihat ukuran dan jarak benda-benda di sekitarnya.

Migren sendiri diketahui memang memiliki kaitan erat dengan sindrom AWS. Pasalnya penderita sindrom AWS cenderung lebih mudah untuk terserang migren. Sejumlah pakar dan dokter bahkan sampai berpendapat kalau sindrom AWS merupakan pertanda kalau orang tersebut bakal terkena migren.

Mereka yang terserang sindrom AWS bakal menunjukkan durasi gejala yang berbeda satu sama lain. Normalnya orang yang terkena sindrom AWS hanya bakal merasakan gejalanya selama beberapa menit atau detik. Namun dalam kasus yang lebih jarang, kelainan yang disebabkan oleh sindrom AWS bisa berlangsung hingga beberapa jam.




Kelainan dalam mengenali ukuran normal suatu benda merupakan salah satu gejala yang paling lazim dialami oleh penderita sindrom AWS, sekaligus menjadi alasan utama mengapa sindrom ini memperoleh nama demikian.

Berdasarkan jenisnya sendiri, kelainan dalam mengenali ukuran bisa dibedakan menjadi 2 macam: mikropsia dan makropsia. Mikropsia adalah suatu fenomena di mana seseorang melihat kalau benda-benda di sekitarnya seolah mengecil. Makropsia di lain pihak adalah fenomena di mana seseorang melihat kalau benda-benda di sekitarnya bertambah besar.

Selain ukuran, penderita AWS juga bakal merasakan keganjilan saat melihat jarak benda-benda di sekitarnya. Berdasarkan jenisnya, kelainan ini dapat dibedakan menjadi 2 macam: pelopsia dan teleopsia. Pelopsia adalah fenomena di mana seseorang merasakan kalau benda-benda di sekitarnya berada lebih dekat dari lokasi aslinya. Teleopsia adalah fenomena kebalikannya. Mereka yang mengalami teleopsia bakal merasakan kalau benda-benda di sekitarnya seolah berada lebih jauh.

“Saya pernah mendengar pasien yang berkata kalau benda-benda yang dilihatnya nampak terbalik. Atau walaupun ibu pasien berada cukup jauh darinya, ia berkata kalau ibunya berada tepat di sebelahnya,” kata Grant Liu, ahli syaraf dari Universitas Pennsylvania yang mendalami kasus sindrom AWS.

Selain masalah pada penglihatan, penderita AWS juga bakal cenderung lebih sensitif terhadap suara. Bagi mereka yang tengah menderita sindrom AWS, suara sekecil apapun bakal terasa keras dan mengganggu. Menariknya, fenomena macam ini juga lazim dialami oleh mereka yang tengah terserang sakit kepala hebat.

Karena penderita AWS mengalami keganjilan saat harus melihat jarak dan ukuran benda-benda di sekitarnya, mereka pun juga bakal mengalami sedikit kesulitan saat harus berjalan. Penderita AWS juga bakal merasakan sensasi kalau anggota badannya seolah-olah tidak bisa dikendalikan olehnya.

Jika migren dianggap sebagai penyebab utama AWS, lantas apa sebenarnya yang terjadi pada otak hingga bisa terkena sindrom AWS? Menurut ilmuwan, sindrom AWS bisa jadi terjadi akibat adanya aliran elektris yang tidak wajar pada otak. Akibat aliran tersebut, aliran darah menuju area otak yang menangani masuknya informasi dari indra penglihatan pun mengalami gangguan.

Migren memang dianggap sebagai penyebab utama AWS, khususnya pada orang dewasa. Namun migren ternyata bukanlah satu-satunya penyebab timbulnya sindrom AWS. Pada anak-anak, penyebab utama timbulnya sindrom AWS adalah akibat infeksi penyakit. 

Hal-hal seperti stress, penggunaan obat batuk, epilepsi, stroke, hingga tumor otak juga disinyalir menjadi penyebab lain timbulnya sindrom AWS. Hasil studi yang dimuat di situs Hindawi juga menunjukkan kalau orang yang keluarganya memiliki riwayat terkena sindrom AWS memiliki peluang lebih tinggi untuk terserang sindrom ini.

Karena AWS bukanlah kasus yang umum dan penyebab pastinya masih belum diketahui secara akurat, tidak ada tes khusus yang bisa digunakan untuk menentukan apakah seseorang terkena sindrom AWS atau tidak. Dokter sendiri bisa mendiagnosis kalau seseorang terkena sindrom AWS jika dokter mengesampingkan hal-hal lain yang mungkin menjadi penyebab penyakit yang sedang diderita pasiennya.


Sindrom Alice in Wonderland

Untuk sampai pada tahap tersebut, maka dokter bisa melakukan sejumlah pemeriksaan pada pasien. Metode pemeriksaan yang digunakan oleh dokter mencakup pemindaian otak memakai MRI dan pemeriksaan gelombang otak memakai EEG. Dokter juga bisa saja melakukan tes darah untuk mencari tahu apakah pasiennya tengah terkena infeksi tertentu.

AWS pada dasarnya bukanlah sindrom yang mematikan. Normalnya jika seseorang terkena sindrom AWS, maka gejala-gejalanya bakal hilang dengan sendirinya setelah beberapa lama. Namun untuk mencegah terulangnya kembali sindrom AWS, penderita bisa mencari tahu apa penyebab sindromnya supaya bisa mendapatkan solusi akuratnya. Sebagai contoh, jika seseorang terkena sindrom AWS akibat migren, menjalani pola hidup yang mencegah timbulnya migren bisa membantu mencegah datangnya sindrom AWS.

“Kami hanya perlu menjelaskan kepada pasien kalau mereka tidak sedang berada dalam kondisi gila, dan orang-orang lain juga ada yang mengalami kasus seperti ini,” kata Liu kepada BBC mengenai pengalamannya dalam menangani sindrom AWS.