Jutaan Pengguna Tertipu Sistem Pembersih Perangkat Palsu


Peneliti keamanan siber Kaspersky mendeteksi terjadi peningkatan dua kali lipat dalam jumlah pengguna yang terserang melalui sistem pembersih palsu. Program penipuan dirancang untuk mengelabui pengguna agar membayar sejumlah yang diduga untuk biara perbaikan komputer.

Jumlah pengguna yang terkena serangan mencapai 1.456.219 pada paruh pertama 2019, dibandingkan periode yang sama pada 2018, yaitu hanya sejumlah 747.322. Selama waktu ini, beberapa serangan menjadi lebih canggih dan berbahaya.

Banyak yang pengguna yang merasa perangkat PC-nya berjalan lambat, akhirnya memilih untuk mencari alat atau aplikasi untuk menjadi solusinya. Namun sayangnya banyak solusi palsu yang dikembangkan oleh para pelaku penipuan agar meyakinkan pengguna bahwa komputer mereka dalam bahaya, misalnyakelebihan memori dan harus segera dibersihkan.


Dalam keterangan tertulis yang diterima SINDOnews, Selasa (2/7/2019) pelaku kemudian menawarkan layanan seperti pembersihan sebagai imbalan untuk pembayaran. Kaspersky mendefinisikan dan mendeteksi program tersebut sebagai ‘hoax system cleaners’.

“Kami telah menyaksikan bagaimana fenomena “hoax cleaners” ini telah berkembang selama beberapa tahun terakhir, dan ini merupakan ancaman yang aneh. Di satu sisi, banyak sampel yang kami lihat menyebar lebih luas dan menjadi lebih mengancam, berkembang dari skema 'penipuan' sederhana menjadi malware yang berfungsi sepenuhnya dan berbahaya," kata Artemiy Ovchinnikov Peneliti Keamanan di Kaspersky.

Setelah menerima izin dan pembayaran dari pengguna, pelaku penipuan memasang sebuah program palsu yang mengklaim untuk membersihkan PC, tetapi yang kerap terjadi adalah program justru tidak berbuat apapun hingga menginstal adware.

"Di sisi lain, mereka begitu luas dan tampaknya tidak merugikan, sehingga jauh lebih mudah bagi mereka untuk menipu pengguna agar membayar layanan, daripada menakuti mereka dengan screen blocker ataupun malware yang tidak diinginkan lainnya. Namun, kedua metode ini terbukti menunjukkan hasil yang sama yaitu para pengguna kehilangan uang mereka,” imbuhnya


Mirisnya praktik seperti ini semakin meningkat, para pelaku kejahatan siber akhirnya banyak menggunakan pemasangan pembersih palsu untuk mengunduh atau menyamarkan malware seperti Trojan atau ransomware.

Negara-negara yang paling terkena dampak serangan dengan pembersih palsu pada paruh pertama 2019 diduduki oleh Jepang dengan 12% pengguna yang terkena dampak, diikuti oleh Jerman (10%), Belarus (10%), Italia (10%) dan Brasil (9%).