Kalahkan Bill Gates! Bernard Arnault Jadi Orang Terkaya Kedua di Dunia




CEO LVMH alias Louis Vuitton Moët Hennessy, Bernard Arnault, secara resmi melengserkan pendiri Microsoft, Bill Gates dari posisi kedua orang terkaya di dunia. Harta konglomerat asal Prancis ini dikabarkan naik jadi US$ 107,6 miliar atau setara dengan Rp 1.504 triliun!

Menurut informasi Bloomberg, jika memang harta Arnault Rp 1.504 triliun, maka cuma Jeff Bezos yang lebih kaya darinya.

Belum lama ini, Arnault juga telah mendepak Warren Buffett dari posisinya sebagai orang terkaya ketiga di dunia. Setelah Buffett, Bill Gates yang akhirnya harus turun takhta.

Kemarin kita mungkin sudah membahas seputar kiat sukses dan kata-kata motivasi dari CEO LVMH ini.

Sekarang, gimana kalau kita bahas seputar fakta-fakta miliuner terkaya di Eropa ini? Yuk, simak ulasannya di bawah ini:

1. Sarjana teknik dan anak pengusaha

 
Pemimpin perusahaan ritel mewah satu ini merupakan seorang sarjana teknik lulusan École Polytechnique di Palaiseau. Ayahnya, Jean Leon Arnault adalah seorang pengusaha yang memiliki perusahaan bernama Ferret-Savinel.

Setelah lulus dari kuliah, Arnault bekerja di perusahaan milik ayahnya. Dia pun berhasil membujuk sang ayah untuk mengubah fokus bisnis dari konstruksi jadi real estate.

Alhasil, perusahaan itu berubah nama jadi Ferinel dan di tahun 1979, Arnault menjadi pimpinannya.

2. Mulai berbisnis barang mewah

 
Setelah sukses memimpin perusahaan yang didirikan ayahnya, Arnault membeli Financière Agache, sebuah perusahaan yang memproduksi barang mewah.

Dia menjadi CEO-nya, dan gak lama kemudian dia pun membeli perusahaan tekstil Boussac Saint-Frères yang sedang mengalami masalah.

Sekadar diketahui, Boussac menaungi brand Christian Dior dan department store Le Bon Marché.  Mereka juga memproduksi sebuah popok bermerek Peaudouce.

Arnault menjual seluruh aset perusahaan dan brand yang ada di bawah Boussac. Cuma dua yang dia pertahankan di sana, yaitu Christian Dior dan Le Bon Marché.

Di situlah awal dari sepak terjang Arnault menjadi empunya barang mewah di dunia.

3. Jadi CEO LVMH

 
Di tahun 1987, LVMH dibentuk lewat sebuah proses merger antara Louis Vuitton dan Moët Hennessy.

Untuk kamu yang belum familiar sama Moët Hennessy, perusahaan ini juga lahir dari merger antara produsen minuman keras champagne Moët & Chandon, dan Hennessy yang memproduksi Cognag.

Sejatinya, produk tertua yang didistribusikan LVMH itu bukanlah tas, melainkan miras bernama Château d’Yquem.

Saat itu, terjadi sebuah konflik antara CEO Moët Hennessy, Allan Chevallier, dan President Louis Vuitton Henry Racamier. Arnault lah yang pada saat itu menjadi penengah.

Di tahun 1988, Arnault membentuk sebuah perusahaan induk baru bersama Guinness yang memegang 24 persen saham LVMH. Arnault kabarnya menggelontorkan dana sebesar US$ 1,5 miliar pada saat itu.

Gak lama kemudian, Arnault langsung mengeluarkan uang US$ 600 juta untuk membeli 13,4 persen saham LVMH hingga akhirnya dia jadi pemegang saham mayoritas. Di tahun 1989, Arnault secara resmi menjadi CEO LVMH.

4. 11 tahun pimpin LVMH, laba perusahaan meroket 500%

 
Sebagai pimpinan baru di LVMH, Arnault terbilang cukup agresif dalam memimpin bisnis ini. Dia menggandeng Richemont, sebuah perusahaan ritel barang mewah di Swiss untuk berkolaborasi, dan juga Kering yang berbasis di Prancis.

Dalam 11 tahun, pertumbuhan market LVMH benar-benar terlihat jelas. Labanya berhasil meroket hingga mencapai 500 persen.

Di tahun 1988, LVMH mengakuisisi Celine, di tahun 1993 dia mengakuisisi Berluti dan Kenzo serta sebuah surat kabar bernama La Tribune.

Sepanjang tahun 1990-an, LVMH juga mengakuisisi brand-brand lainnya. Sebut saja seperti Guerlain, Loewe, Marc Jacobs, Thomas Pink, Emilio Pucci, Fendi, DKNY, Sephora, dan lainnya.

5. Keluarga Arnault kuasai saham LVMH

 
Di tahun 2017, mayoritas saham LVMH alias 46,84 persennya dikuasai oleh keluarga Arnault. Dia juga melibatkan empat anaknya di bisnis ini.

Delphine yang gak lain adalah putrinya, merupakan Executive Vice President Louis Vuitton, Delphine juga tampaknya digadang jadi pengganti ayahnya nanti sebagai CEO LVMH.

Sementara itu, untuk produk minuman, Moët Hennessy menguasai 33 persen sahamnya.

Tepat pada Januari 2017, penjualan produk LVMH dikabarkan tembus hingga 42,6 miliar Euro atau setara dengan Rp 669 triliun. Wow, duit semua itu lho!

6. Meski berbisnis ritel, LVMH juga punya e-commerce

 
Mungkin kamu sering melihat bagaimana peristiwa runtuhnya gerai-gerai ritel di Indonesia. Apakah hal yang sama bakal mengancam eksistensi LVMH ke depan?

Untuk menyiasati hal itu, LVMH ternyata berinvestasi di sebuah e-commerce yang bernama Lyst. Jumlah investasi LVMH di Lyst pada tahun 2018 adalah sebesar US$ 60 juta atau setara dengan Rp 838 miliar.

Lyst tentunya bakal memperkuat eksistensi LVMH di kancah global, terutama dalam bisnis online. Keren juga ya!