Agama Asli Indonesia Warisan Leluhur Nusantara

Di Indonesia, agama yang diakui pemerintah hanya ada 5, yaitu Islam, Kristen Katolik, Kristen Protestan, Hindu, Buddha dan Kong Hu Cu. Namun selain agama tersebut, ternyata ada banyak agama dan kepercayaan lain yang dianut beberapa kelompok masyarakat di Indonesia. Bahkan beberapa agama tersebut sudah ada sejak ratusan tahun silam, jauh sebelum Hindu dan Buddha masuk Indonesia. Hanya saja, agama-agama yang bisa dibilang asli Indonesia itu tak diakui pemerintah. Berikut ini adalah agama-agama asli Indonesia yang tidak diakui pemerintah.

Kaharingan
Kaharingan

Agama ini banyak dianut oleh Suku Dayak di Kalimantan. Kaharingan hari ini dianut oleh setidaknya 300 ribu orang yang menyebar di seluruh Kalimantan. Selama ini orang-orang Kaharingan hidup dengan aman tentram dan tak dipermasalahkan ketika melakukan kegiatan ibadah. Hanya saja, sampai sekarang pemerintah belum benar-benar mengakui keberadaan mereka.

Tak universal seperti Allah dalam Islam atau Yesus dalam Kristen, di Kaharingan ada tiga versi nama Tuhan yang dibedakan berdasarkan wilayahnya. Misalnya kalau di Barito Tuhan Kaharingan disebut Yustu Ha Latalla, sedangkan di Kotawaringin Barat disebut Sanghyang Dewata. Meskipun di beberapa tempat nama Tuhannya berbeda, tapi mayoritas penganut Kaharingan menyebut sang pencipta sebagai Ranying Hatalla Langit, yang kurang lebih artinya adalah Kuasa yang Maha Besar.

Mengenai ritualnya, Kaharingan memiliki ibadah rutin yang disebut dengan Baserah. Ibadah Baserah itu dilakukan tiap hari Kamis. Ada juga upacara Nanuhan atau ritual penamaan bayi, serta Lunuk Hakaja Pating alias upacara pernikahan. Meski tak diakui pemerintah, orang-orang penganut Kaharingan tak dilarang untuk bisa melakukan ritual-ritual tersebut. Mereka juga mendapatkan perlindungan pemerintah daerah asal yang dilakukan tidak menyangkut-pautkan dengan agama lain.

Sampai hari ini, Kaharingan masih belum mendapatkan pengakuan dari pemerintah. Hal ini sangat menyulitkan orang-orang Dayak pemeluk agama ini. Misalkan saja ketika mengisi KTP, mereka bingung harus memilih apa karena Kaharingan tak tercantum di sana. Akhirnya, diputuskan bahwa Kaharingan akan berintegrasi dengan Hindu. Alasannya adalah dari banyaknya kesamaan antara dua agama ini, mulai dari ritual peribadatan, sampai relasi dengan sejarah Kutai yang jadi kerajaan Hindu pertama di Kalimantan. Kemudian pada tahun 1980, Kaharingan resmi dianggap sebagai bagian dari Hindu.

Marapu
Marapu

Marapu merupakan agama asli Indonesia yang berasal dari Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Marapu dalam ajarannya menerapkan sistem keyakinan dengan memuja arwah-arwah leluhur. Dalam bahasa Sumba, arwah-arwah leluhur itu disebut Marapu, yang memiliki arti 'yang dipertuan' atau 'yang dimuliakan'. Itulah sebabnya agama yang mereka anut juga disebut Marapu.

Pemeluk agama Marapu percaya bahwa kehidupan di dunia ini hanya sementara dan bahwa setelah akhir zaman mereka akan hidup kekal di dunia roh, yang dikenal sebagai Prai Marapu. Untuk lebih mudahnya, Prai Marapu ini adalah surga jika menurut agama lain yang diakui pemerintah. Upacara keagamaan Marapu seperti upacara kematian dan sebagainya selalu dilengkapi penyembelihan hewan seperti kerbau dan kuda sebagai kurban. Hal tersebut sudah menjadi tradisi turun-temurun yang terus dijaga di Pulau Sumba.

Untuk berkomunikasi dengan arwah leluhur, masyarakat di kampung adat Prai Yawang, Desa Rindi memiliki salah satu rumah khusus yang disebut dengan Uma Diawa, yang artinya memang rumah leluhur atau arwah. Rumah ini tidak dihuni oleh para penganut Marapu. Rumah ini dipercaya sebagai tempat istrahat arwah. Jika ada penganut Marapu yang meninggal dunia, sebelum dikuburkan, mayatnya dinaikkan ke Uma Diawa.

Penganut Marapu juga memiliki simbol kepercayaan terhadap berbagai jenis hewan. Kuda, sebagai simbol jangan sombong, Kerbau simbol keberanian, ayam dan babi lambang kepemimpinan, sedangkan udang simbol bahwa ada kehidupan setelah di dunia. Karena itulah, di atas kuburan penganut Marapu selalu ada lambang hewan.

Sunda Wiwitan
Sunda Wiwitan

Sesuai namanya, agama yang dianut oleh etnis Sunda, dan agama ini sudah ada sebelum Buddha dan Hindu masuk ke Indonesia. Di masa sekarang, penganut Sunda Wiwitan bisa ditemukan di kawasan Banten, Kampung Naga, Cirebon, Kuningan, Cigugur, dan Kanekes.

Mirip seperti Marapu, Sunda Wiwitan juga memuja kekuatan alam dan arwah leluhur (animisme dan dinamisme), namun Sunda Wiwitan juga memiliki unsur monoteisme purba, yaitu di atas para dewata dan hyang dalam pantheonnya terdapat dewa tunggal tertinggi maha kuasa yang tak berwujud. Dewa tertinggi Sunda Wiwitan disebut dengan nama Sang Hyang Kersa, yang disamakan dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Ajaran Sunda Wiwitan terkandung dalam kitab Sanghyang siksakanda ng karesian, sebuah kitab yang berasal dari zaman kerajaan Sunda yang berisi ajaran keagamaan dan tuntunan moral, aturan dan pelajaran budi pekerti. Kitab ini disebut Kropak 630 oleh Perpustakaan Nasional Indonesia.

Disebutkan ada tiga macam alam dalam kepercayaan Sunda Wiwitan seperti disebutkan dalam pantun mengenai mitologi orang Kanekes. Ketiga alam itu adalah Buana Nyungcung, Buana Panca Tengah, dan Buana Larang. Buana Nyungcung bisa dibilang mirip dengan khayangan, merupakan tempat bersemayam Sang Hyang Kersa, yang letaknya paling atas. Sedangkan Buana Panca Tengah posisinya berada di di tengah, dan merupakan tempat tinggal manusia dan makhluk hidup lainnya. Sementara Buana Larang adalah neraka, yang tempatnya berada di paling bawah.

Dalam ajaran Sunda Wiwitan, penyampaian doa dilakukan melalui nyanyian pantun dan kidung serta gerak tarian. Tradisi ini dapat dilihat dari upacara syukuran panen padi dan perayaan pergantian tahun yang berdasarkan pada penanggalan Sunda yang dikenal dengan nama Perayaan Seren Taun. Di berbagai tempat di Jawa Barat, Seren Taun selalu berlangsung meriah dan dihadiri oleh ribuan orang.

Malim
Ugamo Malim

Malim, atau lengkapnya Ugamo Malim, adalah agama asli Suku Batak yang terletak di kawasan Toba. Agama ini memiliki kesamaan dengan agama Yahudi. Para pengikut agama ini disebut parugamo Malim atau biasa disingkat Parmalim. Yang unik dari ajaran Malim ini adalah mengenai konsep Adam dan Hawa. Manusia pertama di dunia bukanlah Adam dan Hawa, melainkan bernama Si Raja Ihat Manisia dan istrinya Si Boru Ihat Manisia. Tak seperti Adam dan Hawa, yang tempatnya turun pertama kali di Bumi masih diperdebatkan, Raja Ihat dan Boru tanpa ragu dikisahkan lahir di Pusuk Buhit, sebuah gunung kecil yang terletak di sebelah barat Pulau Samosir.

Pada pulau vulkanik di tengah Danau Toba, Sumatera Utara, Raja Ihat dan Boru kemudian membangun perkampungan pertama di kaki gunung Pusuk Buhit. Ia diberi nama Sianjurmula-mula. Perkawinan keduanya menghasilkan tiga anak, yaitu Raja Miokmiok, Patundal Nibegu, dan Aji Lapaslapas. Kecuali Raja Miokmiok, dua anak Raja Ihat dan Boru tak diketahui apakah mempunyai keturunan atau tidak. Raja Miokmiok kemudian punya anak bernama Eng Banua, yang punya tiga anak bernama Raja Aceh, Raja Bonangbonang, dan Raja Jau.

Agama Malim diperkirakan sudah ada sejak 800 tahun lalu dan masih bertahan sampai sekarang. Meski demikian, Malim baru dideklarasikan sebagai sebuah agama oleh Raja Nasiakbagi dan penerusnya, Raja Mulia Naipospos, pada masa awal kemerdekaan Indonesia. Kelompok penganut agama Malim percaya bahwa agama adalah dalan pardomuan dompak debata yang artinya agama sebagai jalan untuk menyatukan diri dengan Tuhan. Hal paling utama dalam ajaran agama ini adalah adanya tonggo alias doa. Tonggo ini digunakan dalam berbagai upacara-upacara peribadatan yang diucapkan dalam bahasa khas dengan menggunakan ungkapan-ungkapan bahasa baku setempat.

Dalam agama Malim, satu Tuhan yang menduduki posisi terpenting bernama Debata Mula Jadi Na Bolon. Dalam sistem teologi agama Malim, Debata Mula Jadi Na Bolon memiliki kekuasaan yang luas dan besar serta bermakna sebagai Tuhan yang Maha Besar.

Towani Tolotang
Towani Tolotang

Agama ini berasal dari Kabupaten Sinderen Rappang di Sulawesi Selatan. Secara kasat mata, tak ada ciri khusus yang membedakan komunitas ini dengan masyarakat sekitar yang mayoritas suku Bugis. Bahkan, mereka juga tetap menegaskan identitas dirinya selaku orang Bugis. Hanya saja, mereka punya kepercayaan berbeda dari warga lain yang mayoritas beragama Islam.

Penganut Towani Tolotang sebenarnya adalah penganut aliran kepercayaan yang menyembah sesuatu yang tak nampak, yang disebut dengan Dewata Sewae. Namun pada tahun 1966, pemerintah tidak tidak menerima hal itu karena hanya mengakui lima agama di Indonesia. Akibatnya, pemerintah memberi tiga pilihan ke warga Tolotang, karena hanya tiga agama yang menurut mereka dekat dengan kepercayaan Tolotang, yakni Islam, Kristen, dan Hindu. Mereka akhirnya memilih sebagai ‘orang Hindu’.

Meski telah memilih Hindu, tradisi dan ritual keagamaannya masih mengikuti ajaran leluhur, bukan seperti ibadah orang Hindu. Mereka pun menahbiskan diri sebagai sekte Hindu dan tetap menolak memiliki pura sebagai tempat ibadah mereka.

Orang Tolotang melakukan ritual Sipulung sebagai perayaan terbesar keagamaan. Sipulung itu mirip seperti Natal bagi umat Kristiani atau Lebaran bagi Muslim. Penganut Tolotang dari seluruh penjuru dunia akan pulang dan berkumpul di Perrinyameng, makam I Pabbere, tokoh yang sangat disegani dan dicintai orang Tolotang. Ritual tersebut tertutup bagi komunitas luar. Di dalamnya berlaku banyak agenda. Salah satunya, tradisi Massempe (adu tendangan dengan kekuatan kaki). Kini, kebiasaan itu hanya dilakukan anak kecil.

Yang unik, tradisi berpakaian orang Tolotang justru tak mirip dengan tradisi Hindu, melainkan mirip dengan Muslim. Laki-lakinya sering bersarung dengan kopiah sebagai penutup kepala. Perempuannya yang sedikit berbeda. Pada acara-acara tertentu, perempuan Tolotang akan mengenakan dua sarung. Satu diikat di pinggang, satunya diselempangkan.

Indahnya keaneka ragaman Indonesia, itulah agama-agama asli Indonesia yang sayangnya sampai saat ini tak diakui pemerintah. Apakah kalian memiliki kenalan dengan agama di atas?