Mengapa Miliarder Dunia seperti Bill Gates Hingga Jack Ma Menjadi Filantropis?


Filantropis atau dermawan yang menyumbangkan hartanya untuk kegiatan-kegiatan sosial, pendidikan hingga kesehatan, kini banyak dilakukan miliarder dunia. Filantropis menjadi pilihan orang-orang superkaya usai pensiun.

Contohnya, Bill Gates, orang terkaya dunia pemilik yayasan Bill and Melinda Gates Foundation. Warren Buffet, Mark Zuckerberg, dan Jack Ma saat ini sering menyumbangkan sebagian besar kekayaannya untuk tujuan filantropi.

Dua orang konglomerat dunia yang mengabdikan hidupnya untuk membantu orang lain adalah Bill Gates, dan terkini Jack Ma. Apa alasan mereka melakukannya? Yuk simak pemaparan berikut ini:

Bill Gates

 
Pasangan kaya raya Bill Gates dan Melinda Gates yang kekayaannya pada tahun 2000 mencapai US$ 79 miliar mendirikan yayasan Bill and Melinda Gates Foundation yang bergerak ke sejumlah program, namun fokus pada peningkatan layanan kesehatan di negara miskin.

Melalui yayasan itu, Gates juga mengajak teman-teman miliardernya seperti Warren Buffet, Carnegie, Rockefeller dan Ford untuk menyumbang. Di 2010, Gates berhasil meyakinkan 38 miliarder lainnya untuk bergabung di program Giving Pledge.

Ikrar untuk memberikan setidaknya separuh hartanya untuk sesuatu yang baik, termasuk konglomerat asal Indonesia, Dato Sri Tahir yang ikut dalam program itu. Daftarnya kini ada 141 miliarder dari 16 negara.

Jack Ma

 
Hal sama turut dilakukan Jack Ma pascapensiun. Dia khusus memberikan perhatian pada pengembangan guru dan kepala sekolah di pedesaan Cina lewat yayasannya yang bergerak di bidang pendidikan sejak 2014, Jack Ma Foundation.

Jack Ma juga telah membentuk Alibaba Foundation pada 2011, yaitu sebuah badan amal swasta yang mendapat biaya dari 0,3 persen pendapatan tahunan Alibaba Group.

Tujuan dari Alibaba Foundation adalah mendukung kegiatan pelestarian lingkungan dan membantu rakyat miskin di Tiongkok. Adapun, Alibaba Group dan Alibaba Foundation mencatat sumbangan sebesar 37 juta dolar AS untuk anggaran fiskal 2018.

Alasan
Terlepas dari tulus atau tidaknya aksi sosial para miliarder dunia itu, ada beberapa alasan yang membuat kita patut mengacungkan jempol atas aksi mereka.

Apa aja? Yuk, simak di sini:


1. Justru dengan memberi, hidup jadi bermakna!
Menurut mereka yang melakukan hal-hal dermawan, kebahagiaan justru datang bukannya dengan menerima. Tetapi dengan memberi yang akan membuat lebih bahagia.

Ada prinsip “Tangan yang memberi, lebih baik dari pada tangan yang menerima”, hal itu yang mereka praktikkan.

Dengan mempraktikkan prinsip ini, mereka rata-rata merasa mengalami kebahagiaan yang tidak bisa dinilai dengan materi. Imbalannya terletak pada kepuasan dan kedamaian batin karena bisa melakukan hal yang mulia bagi orang lain.

2. Memberi tidak akan membuat kekurangan
Para dermawan ini tidak pernah merasa kekurangan. Bahkan, ada seorang dermawan, filantropis sejati yang mengatakan mengalami di mana, “Tuhan tidak pernah mau berutang.”

Pada saat membantu orang lain, jutsru dia merasakan bantuan dan kebaikan yang diterimanya justru berkali-kali lipat.

Namun, dia mengingatkan, “Tetapi, jangan sampai prinsip ini dijadikan alasan untuk memberi.” Menurutnya, kalau kita memberi dengan alasan berharap akan menerima balasan yang berkali-kali lipat, justru membuat pemberian kita menjadi tidak tulus lagi.

3. Memberi tidak akan membuat milikmu berkurang
Inilah yang disebut sebagai mentalitas kelimpahruahan (abundance mentality). Rata-rata mereka yang banyak memberi memiliki keyakinan begitu banyak sumber daya yang tersedia di dunia ini. Dengan memberi, tidak akan membuat jatah mereka berkurang.

4. Bersedia membagikan kepada orang lain, membuktikan layak diberikan lebih banyak lagi
Pola berpikir lainnya yang menarik adalah, keyakinan bahwa: “Justru dengan membagikan, berarti membuat kamu itu menjadi pribadi yang layak untuk dikasih lebih.”

Menurut para filantropis ini, kadang alam semesta atau pun Tuhan hanya akan memberikan rezeki dan keberuntungan kepada mereka yang layak untuk dikasih. Pertanyaannya, siapakah yang layak untuk dikasih?

Menurut mereka, yang layak dikasih adalah yang mau memberikan rejeki dan keuntungan yang mereka peroleh. Tuhan dan alam semesta akan memandang mereka sebagai kandidat yang paling layak menerima kebaikan lebih banyak lagi.

Itu sebabnya, banyak orang kaya yang murah hati, justru banyak menerima keberuntungan dan rezeki dalam kehidupan mereka.

5. Hidup ini singkat, harta tidak dibawa mati

Jawaban seperti inilah yang banyak dijawab. Rata-rata para dermawan dan filantriopis mengatakan bahwa salah satu alasan beramal juga karena mereka percaya bahwa harta Pribadi itu tidak dibawa mati. Jadi daripada harta hanya ditimbun, malahan menimbulkan pertengkaran dan percekcokan setelah mereka meninggal, makanya mereka pun berpikir beramal dengan apa yang mereka miliki.

6. Membagi berkat pada orang lain sebagai wujud rasa syukur
Alasan berikutnya adalah karena mereka ingin menunjukkan rasa bersyukur mereka. Mereka, para filantropis dan dermawan ini merasa bahwa hidup mereka sudah diberikan kemudahan danberkat yang begitu banyaknya. Jadi mereka pun berpikir bagaimana caranya untuk bersyukur dengan cara berbagi kepada lebih banyak orang lagi.

7. Ada kebahagiaan luar biasa saat melihat orang lain senang, sukses, dan bahagia
Ini mirip dengan prinsip yang pertama dari jawaban yang ada. Intinya sementara kita bertemu dengan manusia bermasalah yang prinsipnya 4S (Senang Kalau Orang lain Susah, Susah Kalau Orang Lain Senang), maka prinsip 4S mereka pun berbeda.

Prinsip 4S mereka adalah: Senang Kalau Orang lain Senang, Susah kalau Orang Lain Susah.  Prinsip inilah yang membuat mereka mampu terharu dan merasa berbahagia tatkala bisa membantu dan menolong orang.

8. Meski hanya satu orang saja, sudah cukup bermakna
Dalam prinsip kebaikan hati yang dilakukan para dermawan, mereka terkadang tidak melihat yang besar-besar tetapi tatkala bias membantu satu orang pun mereka menganggapnya sudah punya makna yang baik.