Penemu Dan Temuan Yang Mengubah Dunia Kedokteran

Teknologi dan ilmu pengetahuan senantiasa berkembang seiring berjalannya waktu. Hal serupa juga berlaku di bidang kesehatan. Kian majunya teknologi pengobatan menyebabkan kalangan dokter bisa menemukan solusi manjur atas masalah kesehatan yang dialami oleh pasiennya. Berikut ini adalah contoh-contoh penemuan penting yang memiliki peran besar dalam perjalanan sejarah kedokteran.

Golongan Darah

Karl Landsteiner Penemu Golongan Darah

Darah adalah komponen terpenting dalam tubuh. Tanpa adanya darah, sel-sel tubuh akan mengalami kematian karena oksigen dan zat gizi jadi tidak bisa didistribusikan secara merata. Itulah sebabnya ketika seseorang terluka parah dan darahnya banyak yang mengucur keluar, orang tersebut harus menerima transfusi darah supaya tidak sampai kekurangan darah.

Konsep transfusi darah sendiri sudah lama dikenal oleh manusia. Namun tidak seperti di masa kini, transfusi darah tidak selalu berhasil menyelamatkan nyawa. Terkadang seseorang yang menerima transfusi darah sukses bertahan hidup. Namun tidak sedikit juga kasus transfusi darah yang justru berujung kematian bagi penerimanya.

Hal tersebut lantas menarik perhatian seorang ilmuwan asal Austria yang bernama Karl Landsteiner. Ia ingin tahu apakah ada komponen dalam darah yang mempengaruhi tingkat keberhasilan transfusi darah. 

Pada tahun 1900, Landsteiner akhirnya mendapatkan jawabannya. Darah manusia ternyata terdiri dari 3 golongan berbeda, yaitu golongan A, B, dan C. Golongan darah C kemudian direvisi menjadi golongan darah O.

Berdasarkan pengamatannya, jika darah dari golongan yang berbeda dicampurkan dan tidak cocok, maka sel-sel darah merah yang tercampur akan mengalami penggumpalan atau aglutinasi. Atas kontribusinya ini, Landsteiner pun menerima penghargaan Nobel di bidang kesehatan pada tahun 1930. 

Penemuan golongan darah bisa dibilang sebagai salah satu penemuan terpenting di bidang kesehatan. Jika golongan darah masih belum diketahui sampai sekarang, tidak bisa dibayangkan berapa banyak pasien yang meninggal hanya gara-gara menerima transfusi darah dari golongan yang tidak cocok.

Metode Diagnosa Berbasis Pengamatan

Joseph Bell

Joseph Bell dikenal sebagai salah satu dokter paling unik pada masanya. Sebabnya adalah ia sangat terobsesi akan detail dan pengamatan. Menurut Bell, dengan melihat penampakan sang pasien, maka penyakit dari pasien tersebut bisa diketahui dengan tepat kendati sang pasien belum mengatakan apa-apa mengenai gejala penyakit yang dideritanya.

Di masa sebelum Bell aktif sebagai dokter, dokter hanya sebatas membuat diagnosa dengan menyimak gejala-gejala yang ditemukannya. Namun Bell memiliki pendekatan yang berbeda. Menurutnya, adalah hal yang penting untuk mengamati detail terkecil dari pasiennya supaya bisa mendapatkan diagnosa yang tepat.

Sebagai contoh, dengan mengamati tato pelaut, maka bisa diketahui tempat-tempat saja yang pernah dikunjungi oleh sang pelaut. Lalu dengan melihat wajah seseorang, bisa diketahui apakah seseorang tersebut memiliki kebiasaan mabuk atau tidak. Kemudian saat mengamati telapak tangan, bisa diketahui jenis pekerjaan macam apa yang biasa dijalani oleh orang tersebut.

Saat mengajar sebagai dosen di Edinburg, Skotlandia, Bell juga menekan pentingnya konsentrasi kepada para mahasiswanya. dalam satu kesempatan, ia mencelupkan jarinya ke dalam suatu cairan dan menjilatnya. Bell kemudian meminta para mahasiswanya melakukan hal yang sama.

Para mahasiswa tadi mengikuti perintah Bell dan langsung menunjukkan reaksi mual setelah menjilat jarinya sendiri. Bell kemudian menjelaskan kalau ia tidak merasa mual karena jari yang ia jilat bukanlah jari yang sama dengan jari yang dicelupkan tadi. Dalam perkembangannya, Bell menyandang reputasi sebagai dokter yang tidak pernah salah saat mendiagnosis pasiennya.

Pengukur Tekanan Darah

Nikolai Korotkoff

Selama berabad-abad, manusia ingin mengetahui cara kerja mengenai sistem peredaran darah beserta tekanan yang menyertainya. Tahun 1628 merupakan salah tahun terpenting mengenai sejarah penelitian mengenai sistem peredaran darah karena di tahun tersebut, William Harvey menerbitkan buku berjudul “Exercitatio Anatomica de Motu Cordis et Sanguinis in Animalibus” (Pergerakan Jantung dan Darah Pada Binatang).

Buku yang dirilis Harvey tersebut kemudian menjadi pondasi bagi para ilmuwan berikutnya yang ingin mempelajari sistem peredaran darah. pada tahun 1733, Pendeta Stephen Hales menerbitkan informasi mengenai hubungan antara jantung dengan tekanan darah. Informasi tersebut kemudian dimanfaatkan oleh Samuel Siegfried Karl Ritter von Basch untuk membuat alat pembaca tekanan darah pertama di dunia pada tahun 1881. 

Mekanisme mengenai cara membaca tekanan darah mengalami perkembangan lebih jauh setelah pada tahun 1905, Nikolai Korotkoff menemukan perbedaan antara tekanan darah sistol dan diastol. 

Dengan bermodalkan pengetahuan tersebut, ia kemudian menciptakan semacam selempang yang diikatkan pada anggota badan pasien supaya tekanan sistol dan diastolnya bisa diukur. Hasil temuan Korotkoff tersebut kemudian menjadi patokan mengenai cara mengukur tekanan darah manusia hingga sekarang.

Radioaktif dan Sinar X

Marie Curie

Lahir di Warsawa, Polandia, pada tahun 1867, Marie Curie sejak kecil menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi akan pengetahuan baru. Ia gemar membaca dan mempelajari hal apapun yang ada di hadapannya.

Keinginan kuat Marie untuk senantiasa menimba ilmu lantas menjadi alasannya untuk pindah ke Paris pada tahun 1891. Di sana, ia menempuh pendidikan di Universitas Sorbonne untuk mempelajari matematika dan fisika.

Di Universitas Sorbonne pulalah, Marie bertemu dengan Pierre yang sama-sama menunjukkan kecintaan tinggi akan ilmu pengetahuan. Keduanya pun menikah dan bersama-sama melakukan penelitian terhadap bahan radioaktif. Pada tahun 1898, mereka berhasil menemukan unsur kimia polonium dan radium.

Penemuan unsur-unsur tadi kelak menjadi dasar pengembangan sinar X yang memiliki peran penting bagi dunia kesehatan hingga sekarang. Dengan memotret tubuh pasien memakai sinar X, dokter bisa melihat bagian dalam tubuh pasien dan memberikan diagnosa yang lebih akurat.

Saat Perang Dunia I meletus, Marie Curie bekerja di lembaga Palang Merah dan memberikan pelatihan kepada para staf mengenai cara menggunakan perangkat sinar X. Atas kontribusinya di bidang iptek, Marie pun 2 kali menerima hadiah Nobel pada tahun 1903 dan 1911.

Antibiotik Penisilin

Alexander Fleming

Alexander Fleming adalah pakar mikrobiologi yang bekerja di Universitas St. Mary, London, Inggris. Suatu hari pada tanggal 3 September 1929, Fleming kembali ke laboratoriumnya setelah pergi berlibur. Saat Fleming melihat piringan berisi koloni bakteri di laboratorium, ia menemukan adanya kejanggalan pada piringan tersebut.

Pada salah satu bagian piringan, Fleming melihat adanya bagian yang sama sekali tidak dihuni oleh bakteri. Fleming kemudian menemukan kalau fenomena tersebut terjadi karena ada jamur yang tumbuh di dalam piringan dan menghasilkan senyawa khusus untuk membunuh bakteri di sekitarnya. Fleming kemudian merilis hasil penelitian mengenai temuannya tersebut.

Puluhan tahun kemudian saat Perang Dunia II masih berlangsung, ilmuwan Ernst Chain dan Howard Florey melihat hasil penelitian Fleming dan berminat untuk mengembangkannya lebih jauh. Jika senyawa jamur tersebut bisa membunuh bakteri, maka mungkin senyawa yang sama bisa digunakan untuk membunuh bakteri penyebab penyakit pada manusia.

Keduanya berhasil menciptakan serbuk anti bakteri yang kelak juga dikenal sebagai penisilin. Sejak itu, penisilin pun kemudian diproduksi secara besar-besaran dan kini banyak digunakan sebagai antibiotik untuk mengobati aneka peradangan yang disebabkan oleh bakteri. Sebagai penghargaan atas penemuan penisilin, Fleming, Chain, dan Florey menerima hadiah Nobel pada tahun 1945.