Begini COVID-19 Bunuh Manusia dengan Serang Otak hingga Jari Kaki


Para ahli medis telah menggambarkan bagaimana coronavirus disease(COVID-19) membunuh korbannya dalam serangan ganas melalui tubuh, dari otak hingga jari kaki. Mereka mengatakan virus ini bertindak seperti tidak ada patogen yang pernah dilihat manusia.

Dalam sebuah artikel di sciencemag.org, dokter garis depan yang merawat lima persen yang menjadi sakit kritis membentuk snapshot "fast-evolving" tentang bagaimana penyakit itu menyerang organ yang berbeda pada pasien coronavirus yang berbeda.

"(Penyakit) dapat menyerang hampir semua hal di tubuh dengan konsekuensi yang menghancurkan," kata ahli jantung Universitas Yale, Harlan Krumholz, kepada ScienceMag, yang dikutip Sabtu (25/4/2020). "Keganasannya menakjubkan dan meluluhkan hati."


Dokter dan ahli patologi berusaha mengatasi kerusakan yang disebabkan oleh coronavirus saat virus itu merusak tubuh manusia.

Meskipun paru-paru adalah "ground zero" dokter menyadari jangkauan penyakit dapat meluas ke banyak organ termasuk otak, jantung dan pembuluh darah, ginjal dan usus.

Memahami ganasnya serangan yang ditimbulkannya akan membantu dokter di bangsal COVID-19 mengobati sejumlah kecil pasien yang sakit parah dan kadang-kadang meninggal.

Di seluruh dunia 2,68 juta kasus infeksi COVID-19 telah dikonfirmasi dan lebih dari 187.000 orang telah meninggal. Virus ini pertama kali terdeteksi di Wuhan, China, pada Desember 2019 dan berubah menjadi pandemi global.

Tahap 1: Infeksi

ScienceMag, dalam laporannya, menjelaskan bagaimana virus bekerja sejak saat pertama orang yang terinfeksi membuang tetesan (droplet) yang sarat virus dan orang lain menghirupnya.

Coronavirus—secara ilmiah disebut SARS-CoV-2—memasuki hidung dan tenggorokan. Menurut para ilmuwan di Wellcome Sanger Institute Inggris, virus menemukan "rumah selamat datang di lapisan hidung".

Para ilmuwan yang mempelajari ingus hidung dari pasien yang terinfeksi coronavirus mengatakan sel-sel di hidung kaya akan reseptor khusus yang diperlukancoronavirusuntuk masuk ke dalam sel.

Disebut ACE2, reseptor permukaan sel yang biasanya membantu mengatur tekanan darah, ini memungkinkan virus masuk ke dalam sel. Sesampai di sana, virus "membajak mesin sel", membuat beberapa salinan dari dirinya sendiri dan kemudian mulai menyerang sel-sel baru.

Ketika virus berkembang biak selama minggu pertama setelah infeksi, orang yang terinfeksi mungkin tidak memiliki gejala, atau mengembangkan gejala yang sekarang dikenal seperti demam, batuk kering, sakit tenggorokan, kehilangan bau dan rasa, serta sakit di kepala dan tubuh.

Pertarungan Dimulai

Sistem kekebalan korban akan mulai melawan dan ini merupakan fase kritis dalam membuahkan hasil oleh pasien COVID-19.

"Jika kekebalan orang itu terganggu oleh penyakit atau melemah karena usia, virus kemudian berbaris di tenggorokan untuk menyerang paru-paru, di mana ia dapat mematikan," tulis ScienceMag dalam laporannya.

Turun di paru-paru adalah kantung udara kecil yang disebut alveoli, yang masing-masing dilapisi oleh satu lapisan sel yang juga kaya dengan reseptor ACE2 yang COVID-19 butuhkan untuk menyerang sel dan berkembang biak dengan cepat.

Pada orang yang sehat, oksigen yang dihirup dari udara berpindah ke aliran darah melalui kantong udara ini ke dalam pembuluh darah kecil yang dikenal sebagai kapiler.

Pada orang yang terinfeksi, pertempuran antara sistem kekebalan dan virus yang menyerang mengganggu proses normal ini, sama dengan apa yang terjadi ketika seseorang menderita pneumonia.

Saat sel darah putih seseorang melawan penyerang, ada sisa sel mati yang tersisa, meninggalkan semur cairan dan sel mati atau nanah. Ini menyebabkan gejala batuk, demam, dan pernapasan cepat yang dangkal.

Sebagian besar pasien COVID-19 sembuh, meskipun dengan laju yang bervariasi, tanpa banyak intervensi. Yang lain memburuk dan mengembangkan sindrom gangguan pernapasan akut, dan ketika kadar oksigen dalam darah mereka menurun, maka mereka berjuang lebih keras untuk bernafas, daan mereka berakhir dengan ventilator.

Ketika para korban meninggal, post mortem telah menunjukkan alveoli mereka diisi dengan cairan, sel darah putih, lendir, dan detritus sel paru yang hancur.

Tetapi para dokter di garis depan yang merawat pasien COVID-19 dan para ilmuwan yang mempelajarinya sekarang sedang memeriksa bagaimana penyakit itu menyerang tubuh pasien dan mengapa atau bagaimana itu memengaruhi organ-organ yang berbeda.

Ketika pasien COVID-19 berubah menjadi lebih buruk dan pembuluh darah bocor, tekanan darah turun, membentuk gumpalan, dan kegagalan organ katastropik terjadi dengan—yang mereka duga—sebagai sesuatu yang disebut "badai sitokin".

Badai sitokin adalah reaksi berlebihan yang merusak sistem kekebalan tubuh, ketika sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel sehat, dan itu dapat dimulai di otak.

Sistem Otak dan Nervous

Beberapa pasien COVID-19 mengalami stroke, kejang, kebingungan, dan peradangan otak (ensefalitis) dan ini merupakan perkiraan konservatif bahwa virus tersebut memengaruhi otak dan sistem saraf yang terdiri dari lima hingga 10 persen orang.

Dokter perawat pasien COVID-19 melihat pasien dengan ensefalitis, dan dengan gejala seperti kejang lebih sering terlihat ketika seseorang menderita cedera otak.

Gejala-gejala lain ketika coronavirus menyerang area-area ini adalah hilangnya indera penciuman dan rasa, kehilangan kesadaran dan terserang stroke.

Dokter perawatan intensif fasilitas rumah sakit John Hopkins di Amerika Serikat, Robert Stevens mengatakan penting untuk virus yang menyerang, reseptor ACE2—yang melekat padanya—ada di korteks saraf dan batang otak.

Leluhur coronavirus, SARS, ditemukan pada epidemi tahun 2003 untuk menginfiltrasi neuron dan menyebabkan ensefalitis.

Seorang pasien COVID-19 di Jepang yang mengembangkan ensefalitis ditemukan memiliki jejak terpapar virus dalam cairan serebrospinal mereka.

Temuan lain mengatakan "badai sitokin" dapat menyebabkan pembengkakan otak, dan kecenderungan penggumpalan darah yang berlebihan dapat memicu stroke.

Jantung dan Darah

Pasien pengidap COVID-19 menunjukkan tanda-tanda klasik yang dilihat dokter pada orang yang baru saja mengalami serangan jantung.

Lusinan studi kasus awal menunjukkan bukti pasien dengan pembengkakan jantung dan jaringan parut, dan ventrikel yang melemah hanya dari coronavirus.

ScienceMag mengutip makalah di Journal of American Medical Association's JAMA Cardiology yang mendokumentasikan kerusakan jantung pada hampir 20 persen pasien dari 416 yang dirawat di rumah sakit untuk pasien COVID-19 di Wuhan, China.

Darah juga terpengaruh, di mana sepertiga pasien di Belanda menderita pembekuan darah dan emboli paru, atau pembekuan paru yang berpotensi fatal.

Lebih jauh lagi, coronavirus menyebabkan penyempitan pembuluh darah atau ischaemia di jari tangan dan kaki, yang berarti berkurangnya aliran darah yang menyebabkan pembengkakan, rasa sakit dan kemungkinan kematian jaringan.

“Jika COVID-19 menargetkan pembuluh darah, itu juga dapat membantu menjelaskan mengapa pasien dengan kerusakan yang sudah ada pada pembuluh darah tersebut dari diabetes hingga tekanan darah tinggi menghadapi risiko penyakit serius yang lebih tinggi," tulis ScienceMag.

Ginjal

Sebuah studi di Wuhan menunjukkan hampir sepertiga dari pasien yang diperiksa mengalami gagal ginjal dan 59 persen dari sekitar 200 pasien COVID-19 yang serius kemungkinan menderita kerusakan ginjal.

Sebuah penelitian di China menemukan orang dengan cedera ginjal akut (AKI) yang sudah ada sebelumnya, lebih dari lima kali berpotensi meninggal.

Usus

Gejala yang mengkhawatirkan dari beberapa pasien coronavirus adalah gangguan pencernaan.

Fasilitator virus, reseptor ACE2 “berlimpah” di usus dan laporan tersebut mengutip “bukti yang berkembang” bahwa coronavirus juga dapat menginfeksi saluran pencernaan bagian bawah.

Brennan Spiegel dari Cedars-Sinai Medical Center di Los Angeles mengatakan sekitar 20 persen pasien menderita diare, meskipun banyak orang yang mengalami gejala ini tidak akan dites COVID-19.

"Tetapi, usus bukanlah akhir dari perjalanan penyakit melalui tubuh," katanya.

Medan Perang Tubuh Lainnya

Sepertiga pasien coronavirus yang dirawat di rumah sakit mengalami konjungtivitis, atau mata merah jambu yang berair. Lebih dari setengah pasien COVID-19 di dua rumah sakit China menderita kerusakan hati.