Wanita 'Judes' Korut Ini Disebut Bakal Gantikan Kim Jong-un


Kondisi kesehatan diktator muda Korea Utara (Korut) Kim Jong-un dilaporkan memburuk setelah menjalani operasi. Laporan itu memicu beragam pertanyaan, termasuk siapa yang akan menggantikan pemimpin rezim komunis Korea itu karena dia menunjuk penerus atau pewaris kekuasaan.

Keluarga Kim telah memerintah negara komunis yang sarat rahasia itu selama tujuh dekade terakhir, di mana Kim Jong-un mengambil alih kekuasaan dari ayahnya, Kim Jong-il yang meninggal tahun 2011.

Suksesi kekuasaan secara tradisional dijalani para pewaris laki-laki. Sayangnya, Kim Jong-un yang saat ini berusia 36 tahun tidak memiliki anak laki-laki dewasa. Pada akhirnya, kakak laki-laki dan adik perempuannya menjadi pilihan paling jelas untuk menggantikannya.


Dari dua pilihan itu, adik perempuan Kim Jong-un, Kim Yo-jong, ramai disebut sebagai calon suksesor terkuat. Wanita berusia 31 tahun ini adalah anggota senior Partai Buruh Korea yang berkuasa di negara tersebut. Menurut laporan investigasi National Interest tahun 2019, wanita yang dikenal "judes" ini adalah wanita paling kuat di Korea Utara.

Kim Yo-jong telah menjabat sebagai kepala staf dan jadi pemimpin dari orang kepercayaan sang kakak. Dia telah menjaga citranya yang kuat dalam perannya sebagai direktur departemen propaganda Korea Utara.

Namun politik Korea Utara bersifat patriarkal dan tidak mungkin seorang wanita akan menjadi pemimpin, betapapun kuatnya dia. Istri Kim Jong-un; Ri Sol-ju, mantan pemandu sorak dan penyanyi, juga tidak memiliki kekuatan politik.

Karakter Kim Yo-jong mirip dengan sang kakak. Dia pernah melontarkan kecaman keras dan kasar terhadap Korea Selatan ketika uji tembak rudal-rudal balistik Korea Utara dikritik Seoul karena berlangsung saat pandemi virus corona baru atau COVID-19 pada awal Maret lalu.

Menurut laporan The Guardian pada 4 Maret, Kim Yo-jong berkata Korea Selatan seperti "anjing yang ketakutan". Pernyataan adik diktator muda ini juga diterbitkan oleh media pemerintah Korut, di mana dia mengatakan bahwa Korut berhak melakukan latihan militer dan menolak kritik Korsel yang menyebut perilaku Pyongyang tidak masuk akal.

Perempuan paling kuat Korut ini juga pernah dijatuhi sanksi oleh Amerika Serikat. Jabatannya sebagai kepala departemen propaganda Korut membuatnya dianggap Washington terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia (HAM) terhadap rakyat di negara komunis tersebut. Washington menuduh Kim Yo-jong melakukan sensor ketat di negaranya.

Pilihan kedua untuk suksesor Kim Jong-un adalah kakaknya; Kim Jong-chol, 38. Namun, menurut The Independent, Kim Jong-chol lebih tertarik untuk menghindari sorotan dan pernah digambarkan oleh mantan pekerja sebagai sosok yang terlalu "kekanak-kanakan" untuk memimpin.

Dia terakhir terlihat di konser Eric Clapton di London pada 2015 dan suka bermain gitar.

Menurut analis, jika Kim Jong-un meninggal secara tak terduga karena komplikasi medis, ini dapat mengakibatkan berakhirnya aturan keluarga yang sudah berjalan 72 tahun.

Bruce Bennett, seorang analis pertahanan senior di lembaga think tank Rand Corporation, pernah menulis bahwa keruntuhan rezim Korea Utara kemungkinan sudah ada di cakrawala.

"Ada kemungkinan yang masuk akal bahwa totaliterisme Korea Utara akan berakhir di masa mendatang, dengan kemungkinan yang sangat kuat bahwa akhir ini akan disertai dengan kekerasan dan pergolakan yang besar," tulis Bennett dalam sebuah makalah yang diterbitkan tahun 2013.

Menurut The Independen dan National Intereset, para pemimpin militer Korea Utara dapat mencoba untuk merebut kekuasaan karena krisis penerus. Hal itu bisa mengarah pada kekacauan dan bahkan krisis kemanusiaan.

"Runtuhnya pemerintah dapat menyebabkan bencana bagi China dan ROK (Republik Korea/Korea Selatan) dalam hal pengungsi, tuntutan ekonomi, kesulitan stabilisasi, dan balas dendam Korea Utara," kata Bennett.

"China dan ROK mungkin lebih menyukai sistem Korea Utara saat ini daripada menghadapi masalah yang luar biasa," ujarnya.

Menurut laporan media-media AS, Amerika juga memiliki rencana darurat jika terjadi krisis kemanusiaan skala besar di Korea Utara.