Gagal Bayar Utang Akibat Covid-19, Maskapai Tertua Kedua di Dunia Bangkrut


Avianca Holdings, maskapai penerbangan terbesar kedua di Amerika Latin, mengajukan proses kebangkrutan, karena gagal membayar hutang obligasi yang jatuh tempo. Bukan hanya Avianca, konglomerat Inggris Richard Branson sedang berusaha keras agar maskapai penerbangannya, Virgin Atlantic dan Virgin Australia, bisa bertahan meski merugi karena pandemi yang mengglobal.

Avianca sudah mengajukan bantuan kepada pemerintah Kolombia, namun sejauh ini belum menunjukkan sinyal sukses. Maskapai yang berbasis di Bogota itu menjadi salah satu dari maskapai penerbangan berskala besar yang limbung karena pandemi corona karena menurunnya industri pariwisata.

Avianca tidak lagi terbang reguler sejak akhir Maret lalu dan sekitar 20.000 karyawannya tidak digaji. “Avianca menghadapi krisis yang menantang dalam 100 tahun terakhir,” kata CEO Avianca Anko van der Werff, dilansir Reuters.


Namun, Avianca dikabarkan memang dilaporkan mengalami kondisi performa melemah sebelum wabah virus corona. Upaya pengajuan kebangkrutan karena upaya penyelamatan negara tidak bisa dilakukan. Avianca sendiri juga berharap adanya dana talangan dari pemerintah Kolombia.

“Itu bukan hal mengejutkan,” kata Juan David Ballen, kepala ekonomi lembaa analis keuangan Casa de Bolsa di Bogota. “Perusahaan itu memiliki hutang yang banyak, mereka berusaha merestrukturasi hutangnya pada tahun lalu,” katanya.

Avianca merupakan maskapai tertua kedua di dunia setelah KLM itu memiliki hutang USD7,3 miliar pada 2019. Mereka mengajukan kebangkrutan pasal 11 di New York, tetapi tetap melanjutkan operasi jika mereka bisa merestrukturasi hutangnya. The Colombian Association of Civil Aviators (ACDAC), serikat pekerja Avianca, mendukung langkah perusahaan.

Sebelumnya, miliarder Inggris Richard Branson tidak putus asa untuk menyelamatkan Virgin Atlantic dan Virgin Australia yang terancam bangkrut karena pandemi korona. Di Australia, perusahaan Virgin Australia menyatakan tak sanggup lagi membayar berbagai kewajiban pada tanggal 21 April lalu, yang berarti menjadi maskapai besar pertama yang lumpuh di Asia-Oceania karena wabah korona. "Ini bukanlah akhir dari Virgin Australia, tetapi sebuah permulaan baru. Kami akan bekerja siang malam untuk mewujudkannya,” kata Branson.

Di Inggris, Virgin Atlantic, memiliki kondisi keuangan yang lebih sehat. Meskipun perusahaan belum menyatakan diri bangkrut, keadaan keuangannya tidaklah sehat, sama seperti sebagian besar perusahaan lainnya di industri penerbangan. Branson meminta bantuan pemerintah Inggris, tetapi banyak pihak mengecam permintaan tersebut.

Banyak kritikus pengkritik mengatakan Branson tidak menyelamatkan perusahaaan dengan menggunakan hartanya sendiri, yang diperkirakan majalah Forbes lebih dari US$4 miliar (Rp61 triliun).Virgin Atlantic, maskapai penerbangan yang ia dirikan pada tahun 1984 mengumumkan awal pekan ini, lebih dari 3.000 orang terpaksa diberhentikan. :Banyak maskapai dunia memerlukan dukungan dunia, dan banyak dari mereka mendapatkannya,” demikian isi surat Branson kepada pegawainya.

Menjawab kritikan, Branson mengatakan hartanya diinvestasikan dan dia tidak memiliki dana segar, "yang ada di akun bank dan siap untuk ditarik." Branson juga menjawab kritik bahwa dirinya tinggal di tempat berpajak rendah dan tidak berhak mendapatkan bantuan karena tidak tinggal di Inggris dan tidak membayar pajak selama 14 tahun. “Joan dan saya meninggalkan Inggris bukan karena pajak, tetapi karena kami mencintai Kepulauan Virgin Britania Raya (di Karibia) British Virgin Islands dan terutama Pulau Necker, yang saya beli saat berumur 29 tahun," katanya.

Sebelumnya, pendapatan maskapai penerbangan dunia diperkirakan akan anjlok sebesar USD314 miliar pada 2020. Hal itu disebabkan lockdown dan larangan bepergian setelah mewabahnya virus corona (Covid-19) di seluruh dunia sejak awal tahun ini.

Asosiasi Transportasi Udara Internasional (ATUI) mengatakan, pasar penerbangan kian memburuk. Sebagian maskapai bahkan terancam bangkrut jika wabah Covid-19 terus berlangsung sampai beberapa bulan ke depan.

"Kami pernah mengeluarkan estimasi serupa lima pekan yang lalu dan kini melihat situasinya tiga kali lebih buruk dibandingkan estimasi sebelumnya," ungkap ATUI. Lalu lintas penerbangan dunia telah menurun hingga 95% pada bulan lalu.

Estimasi terbaru ATUI menunjukkan pendapatan maskapai penerbangan dunia turun 55% dibandingkan setahun yang lalu. ATUI juga menganalisis perpanjangan larangan bepergian, resesi, dan perseberan Covid-19 ke Amerika Latin dan Afrika.

Direktur Jenderal (Dirjen) ATUI Alexandre de Juniac mengatakan, prospek industri penerbangan kian hari kian gelap. "Skala krisis kesehatan menyebabkan dunia penerbangan terpukul keras. Tapi realistisnya, semuanya dapat pulih secara bertahap," katanya.

Juniac menambahkan, sekitar 25 karyawan yang berhubungan dengan dunia penerbangan terancam kehilangan pekerjaan. Tanpa adanya dana bantuan dan kebijakan pemerintah, sebagian maskapai penerbangan tidak akan mampu bertahan hidup.