Mengapa Kita Tak Punya Ingatan Masa Balita?

Ilustrasi (Foto: shutterstock)

Kebanyakan dari kita tidak bisa mengingat kehidupan di usia empat tahun pertama. Bahkan, faktanya kita hanya mengingat sedikit saja tentang masa-masa sebelum usia 7 tahun.

Ketika kita mencoba mengingat kehidupan awal sebagai balita, terkadang tidak jelas apakah itu ingatan yang nyata atau kita hanya mengumpulkan kembali apa yang diceritakan orang lain tentang kita atau dari foto-foto.

Fenomena tersebut disebut juga dengan "amnesia masa kecil". Para ilmuwan sejak lama berusaha memecahkan misteri ini, dan sampai saat ini belum ada penjelasan yang mencerahkan.

Salah satu teori menyebut, kita tidak bisa mengingat masa bayi dan balita karena di usia ini memang belum terbentuk memori yang utuh. Walau begitu, bayi berusia 6 bulan bisa memiliki memori jangka pendek.

Ingatan pada bayi hanya bertahan satu menit, dan dalam jangka panjang hanya dalam hitungan minggu atau bulan. 

Dalam sebuah penelitian, bayi berumur 6 bulan yang belajar bagaimana menekan pengungkit mainan kereta-keretaan bisa mengingat lagi cara kerja mainan ini tiga minggu kemudian.

Pada anak usia prasekolah, mereka bisa mengingat kejadian satu tahun sebelumnya. Tetapi masih diperdebatkan apakah memori jangka panjang di usia dini memang sesuatu yang memang terkait dengan waktu dan tempat secara akurat.

Menurut Jeanne Shinskey, dosen senior bidang psikologi dari Royal Holloway Universitas London, kemampuan memori anak berusia tiga tahun memang tak seperti pada orang dewasa, karena masih terus berkembang. 

"Perubahan-perubahan pada masa perkembangan yang juga terjadi pada otak, mungkin bisa menjelaskan mengapa ingatan masa kecil menghilang," katanya. 

Perkembangan yang juga terjadi pada bagian-bagian otak ini termasuk pembentukan, mempertahankan, dan mengambil kembali memori. Misalnya saja, hipocampus yang bertanggung jawab pada pembentukan memori, masih berkembang sampai usia 7 tahun. 

Selain itu, faktor bahasa juga berperan. Di usia satu sampai enam tahun, anak-anak mengalami perkembangan bahasa yang pesat, dari satu dua kata menjadi sangat fasih bicara. 

Perkembangan yang pesat pada kemampuan verbal ini tumpang tindih dengan periode amnesia masa kecil. Misalnya saja penggunaan kata-kata lampau, sehingga anak sering keliru mengingat hal yang terjadi minggu lalu atau kemarin. 

Para ahli mengatakan, memori sebelum usia bicara akan hilang jika tidak diungkapkan dalam bahasa. Dalam penelitian, bayi berusia 2,5 tahun yang secara verbal bisa menceritakan suatu kejadian akan tetap mengingatnya sampai 5 tahun kemudian. 

Shinskey mengatakan, kebiasaan bercerita dari orangtua juga bisa membantu anak mengingat. 

"Cerita dalam keluarga bisa menjaga ingatan anak dan juga meningkatkan kemampuan naratif, yaitu mengingat kejadian kronologis. Semakin runut ceritanya, makin mudah diingat," katanya.

Faktor budaya ikut berpengaruh pada terbentuknya ingatan masa kecil. Orang dewasa di lingkungan budaya yang lebih menghargai kemandirian (Amerika Utara, Eropa), cenderung memiliki ingatan masa kecil lebih baik dibanding dengan orang dewasa yang dibesarkan dalam budaya yang menghargai kekerabatan (Asia dan Afrika).

Dalam budaya yang lebih menonjolkan kemandiran, orangtua akan lebih banyak menceritakan tentang kemampuan individu anak, pengalaman, perasaan, tetapi lebih sedikit tentang hubungan dengan orang lain atau rutinitas sosial. 

Sebagai contoh, anak-anak di Amerika mungkin lebih mengingat mereka mendapat bintang emas dari gurunya di kelas playgroup, sementara anak di China mengingat mereka belajar bernyanyi bersama di kelas.

Memang masih banyak hal yang belum dipahami dalam amnesia masa anak-anak ini, tetapi hasil penelitian terbaru terus mengalami kemajuan. 

Shinskey mengatakan, walau kita tidak bisa dengan jelas mengingat kejadian saat usia balita, tetapi masa-masa tersebut meninggalkan jejak kuat dan memengaruhi perilaku kita saat ini.