Baru Sehari Dapat Izin, Facebook Langsung Didepak dari Tiongkok

Mengapa Zuck bisa diprotes netizen hanya karena ia mengunggah foto sedang jogging di Negeri Tirai Bambu?
Hanya berselang satu hari setelah mendapatkan izin untuk membuka anak usaha di Tiongkok, pemerintah langsung menarik pengajuan bisnis Facebook di negara tersebut dan mulai melakukan penyensoran.

Kepada The New York Times, seorang sumber yang tidak disebut namanya mengatakan, Facebook tak lagi mendapatkan izin untuk membuka inkubator startup di Tiongkok. Padahal, hal tersebut sudah direncanakan sebelumnya.

Sekadar diketahui, sebelumnya Facebook berencana membuka anak perusahaan bernama Facebook Technology yang ada di Hangzhou dengan investasi US$ 30 juta (setara Rp 433 miliar).

Rencananya, di tempat tersebut Facebook dikabarkan akan menjalankan pusat inkubator teknologi yang memberikan investasi dalam jumlah kecil dan memberikan saran pada pelaku bisnis lokal.

Penolakan tiba-tiba atas izin Facebook ini merupakan bentuk ketidaksesuaian antara pemerintah pusat dan lokal.

Sebelumnya, pihak berwenang lokal di Zhejiang yang merupakan markas Alibaba memberikan persetujuan kepada Facebook.

Sayangnya, regulator internet Cyberspace Administration of China yang bermarkas di Beijing tak memberi persetujuan tersebut.

Berdasarkan keterangan dari tangkapan layar yang diunggah ke media sosial, anak perusahaan Facebook ini terdaftar dan dimiliki sepenuhnya oleh Facebook Hong Kong Limited.

Facebook memang punya sebuah kantor sales di Hong Kong yang tidak tunduk pada aturan dan penyensoran yang berlaku Tiongkok.

"Kami tertarik untuk membangun pusat informasi di Zhejiang untuk mendukung para pengembang dan startup Tiongkok," kata Facebook dalam pernyataannya, sebagaimana dikutip The Verge, Jumat (26/7/2018).

Sebenarnya, jika perizinan berdirinya anak usaha Facebook itu diberikan, ini akan jadi momen pertama perusahaan besutan Mark Zuckerberg itu melebarkan sayap ke Tiongkok.

Bagaimana tidak, sebelumnya sejak 2009, Tiongkok khususnya Beijing memblokir penggunaan Facebook setelah dituding menyebabkan kerusuhan Urumqi.

Facebook pun pernah membuka kantor di Beijing pada 2015, namun hal tersebut tidak berhasil. Tahun lalu pun Facebook secara diam-diam merilis sebuah aplikasi bernama Colorful Ballons di Tiongkok. Aplikasi ini memungkinkan pengguna berbagi foto dengan teman-teman mereka.

Anak perusahaan Facebook yang bergerak di bidang virtual reality (VR) Oculus, pun memiliki kantor di Shanghai.

Minggu lalu, dalam sebuah wawancara, Chief Executive Facebook Mark Zuckerberg menyatakan keraguan perusahaannya sukses merambah pasar Tiongkok.

Saat ditanya Facebook akan bermarkas di Tiongkok, Zuck menjawab platformnya telah diblokir di sana. 

"Maksud saya, kami masih jauh dari melakukan upaya apapun. Pada titik tertentu, saya pikir kami perlu mencari solusi yang sejalan dengan prinsip-prinsip kami dan apa yang ingin dilakukan sekaligus sejalan dengan hukum di sana. Kalau tidak, tidak akan ada apa-apa. Saat ini tidak ada penyimpangan," ujar Zuck.