Harga Minyak Melonjak, Donald Trump Telepon Raja Salman

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menggelar acara buka puasa bersama di Gedung Putih, Washington, Rabu (6/6). Di meja utama, Trump duduk bersama Dubes Arab Saudi untuk AS Pangeran Khalid bin Salman dan Dubes Yordania Dina Kawar. (AP/Andrew Harnik)

Jakarta - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menelepon Raja Salman untuk membahas kenaikan harga minyak dunia.

Trump meminta Arab Saudi untuk menambah produksi agar harga minyak dapat stabil. Itu karena saat ini kondisi negara produsen minyak seperti Iran dan Venezuela sedang bergejolak.



"Baru saja berbincang dengan Raja Salman dari Arab Saudi dan menjelaskan padanya, akibat adanya gejolak dan disfungsi di Iran dan Venezuela, saya meminta agar Arab Saudi menambah produksi minyak, mungkin sampai 2.000.000 barel untuk menutupi selisih..." tulis Trump.

Trump turut menambahkan Raja Salman sudah setuju atas permintaannya. Tetapi, menurut para pakar, Saudi tidak akan bisa menambah dua juta bpd (barrel per day) minyak.

Analis pasar minyak Pierre Andurand menyebut Saudi hanya berusaha membuat Trump percaya diri, supaya AS bisa terus keras ke Iran.

"Saya kira Arab Saudi hanya ingin membuat Trump agar terus bertindak keras ke Iran," ucapnya seperti dikutip Reuters, Senin (2/7/2018).

Hal senada disampaikan Gary Ross, Head of Global Oil Analytics di S&P Global, yang menjelaskan penambahan produksi minyak sampai dua juta barel tidak realistis.

"Pihak Saudi tidak memiliki kapasitas menambah dua juta bpd karea itu berarti mereka harus memproduksi sampai 12 juta bpd. Mereka bisa memproduksi maksimal 11 juta saja dan itupun akan memberatkan sistem mereka," jelas dia.

Sebagai informasi, Arab Saudi memproduksi lebih dari 10 juta bpd minyak pada Mei lalu. Negara itu bertekad menambah produksi sebanyak 11 juta bpd pada Juli ini.