Perusahaan Rintisan Asal Jepang Ciptakan Hujan Meteor Buatan

Ilustrasi meteor. (iStock)
Setelah kembang api, belakangan ini hiburan langit diberikan oleh pertunjukan cahaya drone. Sekarang, sebuah perusahaan rintisan Jepang sedang mengembangkan inovasi berupa menampilkan bintang jatuh bagi khalayak ramai.

Dikutip dari Japan Times, Sabtu (21/7/2018), perusahaan asal Tokyo bernama ALE tengah menyiapkan dua satelit mikro untuk diterbangkan ke langit. Nantinya, dua satelit itu akan mengeluarkan bola-bola kecil yang akan bersinar saat memasuki atmosfer sehingga memunculkan kesan hujan meteor.

Setiap satelit membawa 400 bola yang cukup untuk 20 sampai 30 pagelaran. Masing-masing satelit bisa bertahan di angkasa selama sekitar dua tahun.

"Kami menargetkan seluruh dunia, karena stok bintang jatuh kita akan ada di angkasa dan bisa dikirimkan ke seluruh dunia," ujar Chief Executive ALE, Lena Okajima.

Tiap bintang tersebut diperkirakan bisa bersinar beberapa detik sebelum sepenuhnya terbakar dan tidak memberikan risiko pada permukaan bumi. Dari segi komposisi bintang, ada kemungkinan agar para bintang jatuh tersebut bisa berubah warna di langit, sehingga dapat terjadi bintang jatuh berwarna-warni.

Satelit pertama rencanannya akan diterbangkan langit dengan menumpang roket dari badan antariksa Jepang pada Maret 2019. Satelit kedua akan diluncurkan pada pertengahan 2019 dengan roket dari sektor privat.

Rencananya, pagelaran pertama perusahaan ini akan dilaksanakan di awal 2020, tepatnya di Hiroshima.

Hujan meteor buatan ALE disebut akan sangat terang. Sangking terangnya sampai tetap bisa terlihat di langit Tokyo yang dipenuhi polusi cahaya.

Mereka pun sedang mengembangkan ide untuk membuat hujan meteor raksasa dengan menggunakan satelit bekas di angkasa.

Bila semua berjalan lancar, dan langitnya cerah, ALE akan unjuk kemampuan pada 2020 di Hiroshima. Lokasi itu dipilih sebagai tempat pertama karena faktor cuaca bagus, pemandangan, dan aset budaya.

ALE juga berkolaborasi bersama para peneliti dan insinyur dari universitas-universitas di Jepang, serta pejabat pemerintahan lokal dan sponsor korporat.

Belum diketahui berapa biaya yang perlu dibayar untuk meminta jasa hujan meteor buatan, tapi tentunya tidak akan mahal. Apalagi diketahui ALE menghabiskan sekitar USD 20 juta untuk pengembangan sampai pengoperasian satelit.