Hati-Hati, Dalam Kondisi Ini Laptop Bisa Picu Pesawat Jatuh

Ilustrasi laptop dalam pesawat. (iStock)
Pemerintah Amerika Serikat melakukan riset terkait salah satu penyebab fatal kecelakaan pesawat. Menurut para peneliti, selain ponsel, ternyata laptop juga mampu membuat sebuah pesawat jatuh.

Mereka mengungkapkan, baterai laptop yang terlalu panas mampu meledak secara mendadak ketika berada di ketinggian tertentu --karena tekanan udara-- dan menciptakan kobaran api. Terlebih apabila di dalam pesawat terdapat banyak barang-barang mudah terbakar yang dibawa penumpang, seperti gas dalam kaleng deodoran, parfum, atau kosmetik.

Api yang timbul dari baterai laptop yang meledak dikatakan mampu mengalahkan sistem pencegah kebakaran pesawat, kata para ahli di Federal Aviation Administration (FAA).

Penelitian ini menyoroti bahaya lithium, unsur kimia yang terkandung dalam sebagian besar baterai gawai. Air Line Pilot Association (ALPA), serikat pilot terbesar di Amerika Utara, saat ini sedang mempertimbangkan apakah barang-barang seperti itu masih diperbolehkan dibawa ke dalam kabin pesawat atau harus dilarang sepenuhnya.

Sedangkan studi FAA menemukan, gas halon yang digunakan dalam alat pemadam kebakaran pada umumnya tidak cukup kuat untuk memadamkan api yang disebabkan oleh meledaknya baterai lithium.

Meski zat itu mampu mencegah kobaran api menjalar ke beberapa barang di pesawat, seperti kardus, namun gas halon tidak bisa menjinakkan api dari kaleng aerosol yang meledak. 

"Inilah yang kemudian akan membahayakan pesawat," kata Duane Pfund, seorang pejabat di US Pipeline and Hazardous Materials Safety Administration seperti dikutip dari Daily Mail, Jumat (3/8/2018).

Penelitian ini dimulai pada Juni 2017 dan dibahas pada hari Rabu kemarin dalam konferensi tahunan yang dijalankan oleh Air Line Pilot Association (ALPA). Para ahli menyoroti semakin meningkatnya risiko pada penerbangan karena baterai lithium.

Sementara itu, berdasarkan hasil studi FAA, pemerintah AS menekan PBB agar melarang masuknya gawai berukuran lebih besar dari ponsel pintar ke kabin pesawat, yang biasanya dimasukkan ke dalam ransel atau tas.

"Akan tetapi upaya itu gagal dibuat dan FAA tidak memberlakukan pembatasan baru mengenai barang yang dapat dibawa penumpang ke kursi mereka," kata Pfund.