Ini Cara China Lumpuhkan Industri AS, Termasuk Jet F-35


Di tengah memanasnya perang dagang dengan Amerika Serikat (AS), China memiliki satu cara potensial untuk melumpuhkan industri senjata Washington, termasuk produksi jet tempur siluman F-35. Caranya bukan dengan menembakkan senjata, tapi cukup dengan melarang ekspor logam tanah jarang (rare earths).

Logam tanah jarang (LTJ), yang mencakup sekelompok 17 unsur kimia dengan karakteristik khusus, sangat diminati di industri teknologi tinggi militer dan sipil. Mobil listrik, telepon seluler, peluru kendali (rudal), dan jet tempur membutuhkan elemen-elemen berharga ini, dan China mengendalikan sebagian besar pasokan dunia dari logam tanah jarang tersebut.

Larangan ekspor LTJ inilah yang disebut-sebut sebagai "opsi nuklir" Beijing untuk mengalahkan Washington dalam perang dagang yang berlarut-larut dan telah mengguncang ekonomi dunia.


 Pemimpin redaksi Global Times, Hu Jixin, melalui Twitter mengatakan; "China serius mempertimbangkan untuk membatasi ekspor logam tanah jarang ke AS." Global Times adalah media yang dikelola Partai Komunis China atau media corong pemerintah.

Menurut Hu Xijin, Presiden China Xi Jinping telah mengunjungi fasilitas penambangan LTJ pada Minggu lalu. Kunjungan itu diyakini sebagai isyarat Xi Jinping bahwa China benar-benar akan mengambil "opsi nuklir" untuk menundukkan AS.

"Berdasarkan apa yang saya ketahui, China serius mempertimbangkan untuk membatasi ekspor logam tanah jarang ke AS. China juga dapat mengambil tindakan pencegahan lainnya di masa depan," tulis Hu di Twitter yang dikutip dari akun Twitter-nya, @HuXijin_GT, Jumat (31/5/2019).

People's Daily, surat kabar milik negara, bahkan lebih eksplisit mengungkap "opsi nuklir" Beijing dalam sebuah artikel yang diterbitkan pada hari Rabu.

"Akankah logam tanah jarang menjadi senjata balasan bagi China untuk membalas balik tekanan yang dilakukan AS tanpa alasan sama sekali? Jawabannya bukan misteri," bunyi editorial media tersebut. "Jangan katakan kami tidak memperingatkan Anda," lanjut editorial itu menyindir Amerika.

Jika langkah itu benar-benar dilakukan Beijing, maka akan menjadi berita buruk bagi industri militer Amerika. AS bergantung pada China untuk 80 persen dari kebutuhan logam tanah jarang.

Data Survei Geologi AS (USGS) menunjukkan Washington mengimpor logam dan senyawa tanah langka senilai USD160 juta pada tahun 2018, atau naik 17 persen dari tahun sebelumnya.

Salah satu logam tanah jarang itu adalah neodymium. Logam putih ini digunakan untuk membuat magnet yang kuat dan tahan suhu untuk sistem panduan rudal dan aktuator sirip, motor penggerak disk pada pesawat dan tank, komunikasi satelit, dan sistem radar.

Hampir setiap amunisi terpandu di gudang senjata AS menggunakan beberapa kombinasi neodymium, dysprosium, praseodymium, samarium, dan terbium. Amunisi itu mulai dari rudal jelajah Tomahawk hingga bom terpandu Joint Direct Attack Munition (JDAM).

Elemen-elemen lain seperti erbium dan ytterbium sangat penting dalam produksi senjata laser, seperti sistem ATHENA yang dibuat Lockheed Martin di masa mendatang. Laser ini dirancang berdaya tinggi yang dapat membakar drone di langit dari jarak ribuan meter.

"Unsur-unsur logam tanah jarang adalah pusat bagi seluruh spektrum teknologi pertahanan yang sangat penting bagi pasukan militer di banyak negara," kata Rare Earth Technology Alliance atau Aliansi Teknologi Logam Tanah Jarang dalam pernyataan yang dikutip di situs resminya.

Jet tempur siluman F-35, yang sudah terganggu oleh pembengkakan biaya, keterlambatan produksi, dan masalah keselamatan dan keandalan, juga terancam oleh "opsi nuklir" Beijing. Sebab, jet tempur itu diproduksi dengan bahan logam tanah jarang.

Dengan lebih dari 2.600 pesawat F-35 yang dipesan, larangan ekspor logam tanah jarang oleh China berpotensi menjadi pukulan mematikan bagi Amerika Serikat.


F-35 bukan satu-satunya raksasa militer yang akan terpengaruh. Sebuah kapal selam nuklir kelas Virginia membutuhkan 4.170 kg dari elemen-elemen logam tanah jarang. Sedangkan kapal perusak Arleigh-Burke dengan rudal terpandu juga membutuhkan logam tanah jarang 2.360 kg.

Pemerintahan Donald Trump menyadari implikasi seperti itu. Menteri Luar Negeri Michael Pompeo, yang saat itu menjabat Direktur CIA, memperingatkan Komite Intelijen Senat tentang ancaman China pada 2017.

"Ini masalah yang sangat nyata, dan itu jelas tergantung pada elemennya. Tapi kami menggunakannya untuk teknologi yang penting agar kami semua aman," katanya saat itu.

Terlepas dari kekhawatiran tersebut, dan meskipun ada rancangan undang-undang otorisasi pertahanan tahunan yang memerintahkan Pentagon untuk mulai memperbaiki dan mendaur ulang unsur-unsur logam tanah jarang, AS sejatinya sudah mulai bersiap menghadapi guncangan pada rantai pasokan pada tahun 2016.

Laporan Kantor Akuntabilitas Pemerintah pada tahun itu menemukan bahwa Departemen Pertahanan tidak memiliki pendekatan komprehensif di seluruh departemen untuk menentukan logam tanah jarang mana yang penting untuk keamanan nasional dan bagaimana menangani gangguan pasokan secara potensial.