Peritel Jepang Ganti Tenaga Manusia dengan Robot


Penggunaan robot dan otomatisasi perlahan mengubah praktik bisnis di berbagai industri. Model bisnis yang merupakan salah satu bagian dari revolusi industri keempat (4.0) ini pun digadang-gadang memacu efisiensi.

Selain di industri manufaktur, robotisasi kini merambah ke sektor ritel. Yang teranyar, model otomatisasi dengan menggunakan robot ini diadopsi oleh Uniqlo, gerai ritel tersohor asal Jepang.

Robot yang merupakan hasil kerja sama dengan perusahaan rintisan Mujin Inc, ini diharapkan membantu perusahaan tersebut mencapai taraf efisiensi lebih baik di tengah sulitnya mencari tenaga kerja di negara itu. Pasalnya, robot tersebut memiliki kemampuan layaknya pekerja biasa.

Robot yang dioperasikan oleh peritel yang merupakan bagian dari unit bisnis Fast Retailing itu didesain mampu mengambil kaus lalu mengemasnya dan bisa langsung dikirim ke pelanggan.

Laporan Financial Times mengatakan, robot itu dioperasikan di gudang Uniqlo di Tokyo. Teknologi ini merupakan kelanjutan dari rencana perusahaan yang pada tahun lalu menyatakan akan mengganti 90% tenaga kerjanya dengan robot gudang andalannya.

"Sangat sulit mempekerjakan pekerja karena lebih banyak daripada yang dipikirkan orang," kata wakil presiden eksekutif Fast Retailing, Takuya Jimbo dalam sebuah wawancara dengan The Financial Times.

Perkembangan terbaru di sektor ritel ini seiring dengan tren teknologi kecerdasan buatan (artificial technology/AI) yang telah mengambil peran lebih banyak dari beberapa pekerjaan manusia.

Sebelumnya, perusahaan ritel Amazon juga memiliki hampir 100.000 robot di pusat distribusi di tingkat global. Perusahaan lain, Walmart, mengumumkan untuk menyebarkan 1.500 robot pembersih lantai dan rak-rak di tokonya.

Pada tahun lalu, menurut firma riset Emerj Artificial Intelligence Research, pasar robotika diperkirakan mencapai USD19,4 miliar. Angka tersebu akan terus meningkat menjadi sekitar USD144,93 miliar pada 2026 seiring semakin berkembangnya teknologi AI.

Fast Retailing sendiri menjual 1,3 miliar item pakaian per tahun. Namun demikian, menghadapi populasi yang menyusut dan menua, di Jepang, kebutuhan untuk otomatisasi sangat penting untuk memenuhi permintaan. Sehingga, mau tidak mau perusahaan itu mencari teknologi terbaru untuk membantu melayani konsumen.

Lalu, bagaimanakah dengan peritel-peritel di Indonesia? Akankah teknologi robotik diterapkan seperti di Jepang? Pemerhati Budaya dan Komunikasi Digital Firman Kurniawan S menyatakan, di Jepang selama ini telah banyak dibahas sebagai negara yang mengalami penyusutan jumlah penduduk. Tren ini mengakibatkan Jepang berada pada masalah demografi dan berusaha mengatasinya dengan menerapkan society 5.0, sebagailanjutan dari revolusi 4.0.

Pendiri LITEROS.org itu mengatakan, terkait peluang penerapan tenaga robotik di Indonesia, Firman menyatakan bahwa jika tidak ada persoalan ketersediaan tenaga kerja, mengganti tenaga manusia dengan robot maupun mesin cerdas lainnya akan menyisakan persoalan sosial.