Gelar 'Fighter of the Decade' Floyd Mayweather Menuai Kontroversi


Mantan juara kelas welter dunia Floyd Mayweather Jr terpilih sebagai Fighter of the Decade atau ‘Petinju Dekade Ini' versi Boxing Writers Association of America (BWAA), Jumat (17/1/2020). Namun, terpilihnya Mayweather menuai kontroversi lantaran dinilai belum layak dibanding petinju elite lainnya seperti Canelo Alvarez.

Asosiasi Penulis Tinju Amerika (BWAA) membuat marah banyak fans dengan memilih Mayweather Jr sebagai 'Fighter of the Decade' untuk periode 2010 hingga 2019. Padahal Mayweather hanya bertarung setengah dekade, dan banyak petinju yang dia kalahkan tidak lagi di puncak penampilan mereka.

Terpilihnya Mayweather dinilai subjektif karena dia tidak bertahan selama satu dekade penuh. Beberapa pertandingannya seperti melawan bintang UFC Conor McGregor juga bisa dikatakan tidak mengandalkan catatan profesionalnya. Di mata banyak penggemar tinju, itu seperti pertarungan level ekshibisi.


Dibanding Mayweather, Canelo dinilai lebih pantas mendapatkan penghargaan Petinju Terbaik Dekade Ini, karena dia tampil sepanjang 10 tahun antara 2010 hingga 2019. Canelo bersinar sepanjang dekade ini, dengan memenangkan 4 gelar juara dunia, dan mengalahkan monster kelas menengah Gennady Golovkin dan memukul KO kelas berat ringan Sergey Kovalev.

Dilansir boxingscene.com, Canelo bertarung sepanjang dekade, dari 2010 dan 2019, dan melakukan pekerjaan yang lebih baik mengalahkan Miguel Cotto daripada Mayweather.

Mayweather mengalahkan sejumlah petinju yang saat itu dinilai tidak dalam performa terbaik. Shane Mosley berusia 39 tahun saat Mayweather bertarung dengannya. Sedangkan lainnya Victor Ortiz, Marcos Maidana, Canelo Alvarez yang saat itu berusia 22 tahun, Miguel Cotto (bertanding setelah menelan dua kekalahan beruntun dari Manny Pacquiao dan Antonio Margarito).

Lalu, Robert Guerrero, Manny Pacquiao yang saat itu berusia 36 tahun, Andre Berto yang telah melewati masa jayanya, dan Conor McGregor yang membuat debut pro di tinju.

Banyak dari nama-nama tersebut mungkin terlihat bagus pada pandangan pertama, namun faktanya kebanyakan dari mereka tak berada di puncak ketika Mayweather melawan mereka. Seperti, Canelo Alvarez yang baru berusia 22 tahun, dan tidak pada puncak kariernya.

Mayweather melawan Canelo sebelum petinju asal Meksiko itu berkembang menjadi petarung hebat. Sejumlah penggemar tinju melihat Mayweather memilih Canelo lebih awal, sebelum dia berkembang menjadi sangat baik.

Pacquiao juga berusia 36 tahun dan tidak lagi dalam kondisi terbaiknya ketika Mayweather bertarung dengannya pada tahun 2015. Itu merupakan pertarungan yang terlambat 6 tahun, tetapi sukses untuk Mayweather, tetapi tidak untuk Pacquiao.

Ketika Mayweather bertarung melawan Cotto pada 2012, petinju Puerto Rico itu menuju akhir kariernya setelah kalah KO dari Antonio Margarito dan Manny Pacquiao. Ini bukan Cotto yang tampak tak terkalahkan dari 2005 hingga 2008.

Mayweather memecahkan rekor 49-0 Rocky Marciano dengan mengalahkan petarung UFC asal Irlandia Conor McGregor pada tahun 2017. McGregor membuat debut pro dalam tinju, dan Komisi Atletik Negara Bagian Nevada menyetujui pertarungannya dengan Mayweather sebagai penghitungan sebagai pertarungan profesional. Itu adalah cara yang dipertanyakan bagi Mayweather untuk memecahkan rekor.

Apa yang telah dilakukan McGregor selama kariernya di UFC bukanlah persiapan baginya untuk bertarung melawan seorang petinju di level Mayweather dalam debut profesionalnya di dunia tinju.

Pilihan BWAA untuk Fighter of the Decade adalah sebagai berikut: Canelo Alvarez, Manny Pacquiao, Andre Ward, Gennadiy Golovkin, dan Floyd Mayweather. Mayweather berada di urutan kelima alam daftar penulis ini, karena dia hanya bertarung Setengah dekade, dan orang-orang yang dia lawan tidak pada masa jayanya.